Monday, April 18, 2016

rencana mau denger kajian sekalian tidur siang tadi jadi sedikit buyar. pasalnya, tema kajiannya ternyata sederhana tapi mengena serta pembawaan ustadznya yang seru.
adalah ustadz syahroni mardani yang menjadi pemberi tausiyah di shalahuddin ba'da zuhur tadi. beliau yang sempat membuat jamaah terkesiap (seengaknya itu yang saya rasakan) ketika mengatakan "pemimpin saat ini nggak bener yang bikin keadaan jadi berantakan", yang kemudian pecah menjadi cekikikan-cekikikan kecil setelah beliau melanjutkan kalimatnya: "itu batman aja sampe berantem sama superman. padahal dua-duanya sama-sama baik". "tapi katanya rangga udah ketemu lagi sama cinta, ya?" begitu lanjutnya lagi.
tema kajiannya adalah rosululloh saw diutus sebagai siroojan muniiran (cahaya yang menerangi), yang artinya keberadaan rosul itu membawa berkah bagi sekitarnya, yang juga sepatutntya kita teladani.

 
أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ
 manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia

salah satu bunyi hadits yang dibacakan pada kajian siang tadi. hampir sama maknanya dengan gambar kaligrafi di bagian atas.

jadi, jangan buru-buru sedih, pundung, apalagi marah jika suatu ketika merasa dimanfaatkan sama orang lain. bisa jadi itu jalan untuk memperoleh cinta-Nya, yang belom tentu kesempatan itu ada pada orang maupun ketika lainnya. bisa jadi. kalo ngga bisa, ya, ngga jadi.



sumber gambar: google plus Khairi Muhammad

Saturday, March 7, 2015

mantra

kepada dia
--
yang bermula pada kata
mencari celah lewat mata
demi menyusup rongga dada
hingga menjelma serupa doa
--
 :
bilakah kita?

salah gaul dari bayi

definisikan "perjuangan"

selalu ada,
orang cakep kalah sama orang yang selalu ada
orang baik kalah sama orang yang selalu ada
terus aja, rip.
lama-lama dia juga...

juga apa?

lama-lama dia juga muak

ah, brobot

Thursday, January 22, 2015

dan lalu...

jangan katakan bahwa kenangan dan masa lalu akan menguap seiring waktu. sebab jika begitu, mereka kemudian membentuk awan, yang kelak turun kembali bersama hujan.

jelajahi waktu, ke tempat berteduh hati kala biru

Tuesday, October 28, 2014

selamat hari blogger nasional

kata orang kemarin, ya kemarin: 8 menit lalu, adalah hari blogger nasional. salah satu yang menjadi pertanyaan saya yakni kapankah hari wordpress nasional? tumblr?  atau twitter mungkin?
ah, sudahlah. daripada bergaring ria sedemikian rupa, saya memilih memperingatinya dengan membuat sebuah postingan di sini: sesuatu yang telah lampau tidak saya lakukan.

selamat hari blogger nasional!

sekian.

Monday, March 17, 2014

bukan curhat, bukan kisah nyata, bukan kampanye terselubung juga

emang kalo aku mau sama kamu, untungnya buat aku apa?

hmm. . apa ya? oh, kamu ga usah repot-repot nyariin guru ngaji buat anak kita nanti

emang kamu pinter ngaji gitu?

ngg. ngga juga sih. maksudnya biar aku yang cariin.

Thursday, March 13, 2014

ini juga bukan sanggul-sanggulan

beberapa hari belakangan ini sering mengalami perasaan sadar ketika bermimpi waktu tidur. terasa seperti sedang bermimpi, tapi saya sadar kalau saat itu saya memang sedang bermimpi. mau dibilang sedang mengkhayal tapi rasanya visualisasi yang tercipta ketika itu terlalu nyata untuk sebuah khayalan.

situasi ini terjadi biasanya terjadi ketika saya mulai berbaring untuk tidur. entah mungkin karena daya imajinasi saya yang meningkat, atau saya mengalami bentuk lain dari sleep disorder yang beberapa waktu lalu kerap saya alami: sleep paralysis? mudah-mudahan, sih, bukan.

Monday, March 10, 2014

saya, mah, percaya

adakah yang lebih mengerikan daripada menghabiskan jatah usia dalam kemacetan berjam-jam di jalan sebagai menu harian; berkutat dalam jebakan delapan pagi hingga lima petang; kemudian mati begitu saja tanpa catatan-catatan kegemilangan suatu pencapaian?

ada. disiksa di neraka.

tapi ditulis juga

apakah dari cinta yang diperjuangkan?
eksistensi kepada orang yang sama dalam dada, juga kepala;
ataukah balasan dari orang yang diharapkan?

geli, ah. .

Sunday, July 28, 2013

Nokturno, Sapardi Djoko Damono


kubiarkan cahaya bintang memilikimu

kubiarkan angin yang pucat

dan tak habis-habisnya gelisah

tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu

entah kapan kau bisa kutangkap...

Wednesday, June 26, 2013

(Bukan) Curhatan

"Setiap orang hidup dengan masa lalunya, karena masa lalu tidak pernah betul-betul berlalu. Setiap kali seseorang berniat melupakan sesuatu dari masa lalu itu sebetulnya ia telah mengguratkannya dalam hati. Seseorang bisa saja melupakan sesuatu namun sesuatu itu tidak pernah akan hilang bahkan tersimpan dalam peti-peti tertutup di relung kenangan yang tidak terpetakan. Dalam perjalanan hidup seseorang bisa saja bertemu kembali dengan peti-peti itu, tanpa sengaja membukanya, atau dengan sadar tidak akan pernah membukanya sama sekali. Namun isi peti itu tidak akan pernah hilang. Bahkan dengan suatu cara ia kemudian seperti udara yang merembes keluar dari celah-celah peti, menempel dan melebur dalam darah yang menghidupkan kembali syaraf-syaraf perekam kenangan di otak, yang tanpa sadar mengingatnya meski tak tahu darimana datangnya"
- Seno Gumira Ajidarma, dalam roman Biola Tak Berdawai.

"Harapan sih bisa 0%, tapi perasaan tetep 100%," begitu curhatan teman saya lewat yahoo messenger pada suatu ketika.

Saturday, February 9, 2013

Biarkan Semua Wajar Adanya

bentangan jarak, melintas khayal, menggairahkan arti hidupku
walau hatiku - hatimu takkan bertemu
betapa mungkin dekat dirimu, atau kukenali



Lain Dunia, Padi

Thursday, October 4, 2012

Percakapan Tengah Malam dengan Laki-Laki yang (Katanya) akan Menikah

Saya: sejak kapan kepikiran untuk kawin?
          *wawancara

Teman kuliah yang saya ragukan kesehatan jiwanya, dan demi kebaikannya, maka kita sebut saja Yayan: sejak mendengar lagu "Aku Separuh..." dari band lama bernama baru yg kepikiran namanya dari pelajaran kimia SMA (garam [baca: NaOH]), aku tersentak, dan merasa tulang rusukku lowong, dan perlu ditambal dengan sesosok istri solehah, yang tidak lain adalah perhiasan dunia yang paling indah

Saturday, February 18, 2012

Sesuatu Lain yang Juga Tertunda: Desember pada Februari

sampai kapan kita menjebakkan diri pada belenggu simbolisasi, peringatan-peringatan tahunan, turun ke jalan-jalan, teriak-teriak mengkritisasi, mengkritik demi nasi;
dan sampai kapan kita menjadi pelupa pada cerita-cerita, derita-derita, manusia-manusia, yang tidak terlihat mata tanpa mesti berpura-pura buta;
kemudian sampai kapan kita saling memalingkan muka, menundukkan kepala sambil menyulam luka?

Friday, February 17, 2012

Rindu itu Sembilu, Biru

Jika saja kamu di sini, Biru, pasti akan saya ajak kamu jalan-jalan ke Dompu tiap akhir minggu. Atau pergi ke Monta untuk itu guru TK kelahiran sembilan dua. Atau keliling kota demi mencari lokasi Bank Pundi. Haha.

Tapi benar, Biru: rindu itu sembilu.

Saturday, December 24, 2011

Adios, Biru :'(

Saya pikir hampir semua orang akan sepakat jika saya bilang hal yang paling tidak menyenangkan dari sebuah kebersamaan yang menyenangkan adalah kepastian adanya perpisahan. Sebenarnya ada bagian yang menjadikan hal yang tidak menyenangkan tersebut lebih tidak menyenangkan lagi: berpisah tanpa ucapan selamat tinggal.

semoga saya tidak perlu merindukan masa itu
Ah, saya pun tidak mampu bercerita tujuh tahu kebersamaan kami di sini saat ini. Yang bisa saya lakukan adalah berharap keberadaannya kembali berarti lagi. Itu yang harus dia tahu dan paham mengapa saya mesti melepasnya. Bukan berarti dia yang mulai membosankan, atau saya tak tahan lagi dengan kebosanan. Bukan.


Saturday, October 8, 2011

Halo, Blog!

sama kaya orang-orang yang nggak ditemui beberapa tahun belakangan ini, lama ngga nulis blog ternyata juga bisa bikin kangen. setidaknya beberapa blogger yang saya kunjungi blognya, seperti pidi baiq, juga jenny (yang sekarang jadi festivalist),  juga oshin, pernah merasa demikian. saya kangen kamu, blog. hehe.

kalo ngomongin kangen, berarti nggak lepas dari masa lalu. kalo ngomongin masa lalu, saya jadi inget masa-masa saya esde dulu. dulu jarak dari rumah ke sekolah saya itu sekitar satu kilo. satu kilo itu kira-kira sama kaya dari sekolah ke rumah saya. satu kilo itu biasanya saya tempuh dengan sepeda. kalo pas kelas satu saya dianter jemput sama lik (panggilan untuk adik orang tua /jawa/) saya, dari kelas dua sampai kelas lima saya bawa sepeda sendiri. biasanya saya berangkat sama temen saya depan rumah, piki namanya. saya dan piki itu temen akrab. pernah pas pulang ban sepedanya bocor, dia tuntunlah sepedanya, ya, saya juga ikutan nuntun. pernah juga kunci gembok buat rantai yang ngiket sepeda kita itu hilang oleh saya. alhasil saya sama piki pulang dulu, manggil bapaknya piki, terus balik lagi ke sekolah sambil bawa tang buat mutusin itu rantai. eh, besoknya kunci gemboknya ketemu di bawah meja di kelas.

pacar pertama saya di bima
kalo ngomongin sepeda, saya jadi inget tadi pagi. minggu, eh, sabtu lalu saya akhirnya beli sepeda lagi meskipun baru beli dua bulan lalu di bima. sepeda yang di bima nggak saya bawa pulang. kayanya mahal biaya kirimnya. itung-itung beliin buat si tika juga, berhubung sepeda yang di rumah udah nggak layak digowes lagi. terakhir saya pake sepeda lama itu bannya pecah, beberapa hari sebelumnya rantainya putus. itu kejadian lebih dari setahun lalu. jadi ceritanya tadi pagi saya sepedaan. rencana awalnya sih mau ke kemanggisan, ke pusdiklat pajak buat ngitung waktu tempuh rumah-pusdiklat. siapa tau saya mau b2d (bike to diklat). terus pulangnya mampir ke rumah moli buat minjem film sama minjemin buku. 

tapi rencana cuma sekedar rencana. berhubung temen yang bisa diajakin itu aguy, saya jadinya mengubah haluan ke ui depok. berangkat jam lima lewat, nyamperin ke rumah aguy di ciganjur yang ternyata si aguy masih tidur. berangkat sekitar jam enam, sampe di kukusan ternyata gerimis lumayan lebat, akhirnya sarapan bubur ayam dulu sekalian neduh. setelah bubur abis dan ujan reda, saya ngelanjutin gowes, sama aguy juga, ke ui. ternyata seru juga sepedaan di sana, meskipun, entah kenapa, saya agak sentimen sama kampus satu ini. 
kala senja di batas kota bima

pulangnya juga ujan, tapi yang ini aguy udah sampe rumahnya, dan saya neduh sendiri. ujan belum reda bener, saya ngelanjutin perjalanan pulang. sepedaan di gerimis itu rasanya bikin saya jadi melankolis-melankolis gimana gitu. damai, sejuk, bau tanah. pulangnya tepar dan tidur dari jam sepuluh sampe azan zuhur. capek, tapi puas. eh, sorenya si kanda ngajakin ke ui lagi. karena udah ke sana tadi pagi dan masih capek, saya tolak. eh, dia malah ngajakin ke bunderan hi malem-malem. menggoda sih, tapi mengingat sepeda saya belum ada lampunya, lain kali lebih baik sepertinya, setelah dipasangin lampu itu sepeda saya. besok rencananya sih mau ke kemanggisan, udah janjian sama fandi. mudah-mudahan nggak ujan.




eh, kok jadi ngomongin sepedaan ya? ah, gapapa juga. yang penting udah berinteraksi sama kamu, blog. apapun bentuknya.

Friday, June 10, 2011

Kotak Bekal Baru

Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up


















Life is good, yes it’s good, I’ve got food!

Bayangkanlah

Karena hidup tidak selalu terasa indah, sedangkan kita mesti siap menghadapi semua yang akan terjadi, berekspektasi pada hal-hal yang tak diinginkan menjadi penting adanya.

bayangkanlah, bila mata tak mampu lagi memandang...

Monday, March 14, 2011

Bucket List

Waktu kecil dulu, sekitar 3--6 tahun-an, kalau ditanya: "cita-citanya apa, ip?" Saya yang umur-umur segitu lagi keranjingan Kotaro Minami, Jason, Billy, Trini, Kimberley, dan Jack (eh, ranger hitam itu Jack atau Adam?) dengan senang menjawab, "mau jadi polisi, biar bisa nangkepin penjahat." Beranjak sekolah, cita-cita juga ikut berubah, pernah mau jadi pemain bola--meskipun kalau lari lima menit napas jadi Senin--Kamis--, pernah juga mau jadi peneliti yang akhirnya bingung sendiri: "peneliti itu kerjanya apa ya?" Hingga tiga cita-cita yang saya tulis di biodata buku tahunan SMA: jadi dokter, foto saya dipajang di sebelah kiri Burung Garuda, dan jadi bapak. Untuk jadi bapak saya masih punya harapan (dan sangat-sangat berharap saya jadi bapak, bukan ibu). Kalau jadi presiden saya pikir-pikir ulang lagi kalau liat kondisi sekarang: tanggung jawabnya terlalu besar, apa-apa disalahin, ada masalah ujung-ujungnya pemerintah, padahal gaji tidak lebih besar daripada gaji Direktur Pertamina (ini yang terakhir saya tahu, ya. Kalau ternyata sekarang gaji presiden lebih tinggi pun tetap saya tidak mau) Lagipula presiden itu jabatan, jabatan itu amanah, amanah bukan untuk dicari meskipun jika diberi amanah jangan lari. Yang lebih penting lagi: memang ada yang percaya saya untuk jadi pemimpin? Jadi korlip dan mengurus ikatan alumni saja amburadul dan menyebabkan kebotakan dini pada kepala saya. Tapi, intinya adalah dulu saya selalu senang jika ditanya tentang mau jadi apa saya di masa depan, bagaimanapun kondisi saya setelah itu. Seakan ada semangat tambahan jika menceritakan harapan ke orang-orang.

Untuk cita-cita jadi dokter, saya pikir inilah "initial problem" (maksudnya adalah masalah yang menjadi awal dari masalah-masalah terkait) saya dalam memiliki dan meraih cita-cita. Setelah gagal SNMPTN seakan-akan kegagalan meraih cita-cita saya datang berbaris-baris dan jadi hal yang biasa saja. Alih-alih semakin gigih berusaha, saya malah takut memiliki cita-cita. Lihat saja postingan saya terdahulu, dari belasan target yang saya canangkan, yang saya jalankan hanya beberapa, dan itu pun putus di tengah jalan.

Sayangnya, seakan melihat ketakutan saya untuk memiliki cita-cita, ketika tingkat tiga di STAN, dosen KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian) saya yang ternyata aktif jadi pengisi rubrik di eramuslim.com dan dakwatuna.com memberi tugas untuk membuat semacam life map untuk jangka panjang. Alhasil, jadilah tugas itu sebuah proyek kebohongan: membohongi dosen saya dan diri sendiri karena menulis cita-cita palsu. Jadinya seperti ini:














Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana life-map itu mesti dibuat. Saya pun ambil simpel saja, saya print gambar-gambar diatas seukuran kotak kopi per gambar, saya rekatkan pada karton, kemudian saya masukkan ke dalam kotak kopi yang telah dilapisi kertas dan ditulisi Bucket List dengan krayon macam anak TK.

Meskipun cita-cita yang dituliskan itu bohong-bohongan, karena saya sudah terlanjur mempublikasikannya dan sebagai laki-laki, saya merasa punya kewajiban untuk mewujudkannya, atau setidaknya mengusahakan untuk mewujudkannya, atau setidaknya (lagi) meniatkan untuk mengusahakan demi mewujudkannya. Lagipula sampai saat ini belum ada yang tertulis di sana mesti direvisi.