Tuesday, September 14, 2010

Degradasi

Ah, baru aja mau posting tulisan baru. Eh, pas diliat lagi: kok cupu banget ya? Jadi malu mau postingnya. Tapi kalo dipikir-pikir kayanya makin lama, kok, makin nggak bagus, tulisan saya--saya nggak bilang tulisan saya pernah bagus, kan?--.

Eh, degradasi, atau regresi? Ah, emang makin payah, nih.

Thursday, August 26, 2010

Tarawih Kilat

pukul tujuh lewat empat
menuju masjid terdekat
bergegaslah untuk berangkat,
tiba tepat pada iqomat
diawali wajib empat,
kemudian dua puluh roka'at
ketika tujuh seperempat,
dua menit tiap tahiyat
disusul dengan sholawat
bangkit lagi dengan keringat,
tiap gerakan begitu cepat
diam sejenak pun tak sempat,
agar sampai pada tabbat
di pukul delapan tepat

***

ternyata bukan hanya pesantren saja yang bisa kilat.
padahal tarawih berarti istirahat         fiqh tarawih

Sleep Paralysis

Pernahkah Anda merasa kaku ketika baru terbangun dari tidur? Anda sadar, tapi seluruh badan rasanya sangat sulit digerakkan. Nafas terasa sesak, seakan-akan tertindih sesuatu.

Peristiwa tersebut merupakan gejala dari sleep paralysis atau tidur lumpuh. Kelumpuhan itu adalah suatu kondisi seseorang yang sedang berbaring terlentang saat baru saja tertidur atau baru akan terbangun, tapi menemukan dirinya tidak bisa bergerak atau berbicara. Sleep paralysis berlangsung dalam hitungan detik atau paling lama sekitar satu menit. Namun, bagi orang yang mengalaminya akan terasa lama karena timbulnya kepanikan.

Kejadian tersebut biasanya juga disertai dengan perasaan hal yang menakutkan, seperti bayangan hitam yang berada di atas atau hantu yang menindih badan, sehingga sering dikaitkan dengan hal mistis. Dalam keseharian, peristiwa tersebut sering disebut tindihan atau irep-irep. Bahkan, di kalangan medis Barat, peristiswa ini pernah dinamakan The Old Hag Syndrome, yang maknanya dalam kejadian ini seakan-akan ada penyihir (old hag) yang menduduki dada orang yang mengalaminya. Hampir setiap orang pernah mengalami sleep paralysis. Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, laki-laki atau perempuan. Orang biasanya pertama kali mengalami kejadian ini ketika usia 14—17 tahun.

Berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam empat tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap rapid eye movement (REM). Ketiga tahapan awal disebut juga tahapan non-REM. Ketika kita tidur, 80 menit pertama, kita memasuki kondisi non-REM, lalu diikuti 10 menit REM, yakni saat terjadinya mimpi. Selama non-REM, tubuh kita menghasilkan beberapa gerakan minor dan mata kita bergerak-gerak kecil. Ketika masuk ke kondisi REM, detak jantung bertambah cepat, hembusan nafas menjadi cepat dan pendek dan mata kita bergerak dengan cepat (rapid eye movement). Dalam kondisi inilah, mimpi kita tercipta dengan jelas dan kita bisa melihat objek-objek di dalam mimpi.

Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malafungsi tidur di tahap REM. Selain itu, menurut dr. Max Hirshkowitz, Direktur Sleep Disorders Center di Veterans Administration Medical Center, Houston, Amerika Serikat, sleep paralysis muncul ketika otak mengalami kondisi transisi antara tidur mimpi yang dalam (REM dreaming sleep) dan kondisi sadar. Selama REM dreaming sleep, otak kita mematikan fungsi gerak sebagian besar otot tubuh sehingga kita tidak bisa bergerak atau lumpuh sementara yang disebut dengan REM Atonia. Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM) atau sebaliknya. Ketika terjadi lompatan ketika akan tidur tersebut, seseorang masih setengah sadar saat otak sudah mematikan fungsi gerak dan mulai terjadi mimpi. Atau, kadang otak kita tidak mengakhiri mimpi atau kelumpuhan kita dengan sempurna ketika terbangun, sehingga tubuh masih terasa kaku ketika sudah tersadar.

Florence Cardinal, seorang peneliti masalah sleep disorder asal Kanada, mengatakan kalau halusinasi biasanya memang menyertai sleep paralysis. Kadang, ada perasaan kalau ada orang lain di dalam ruangan atau bahkan kita bisa merasakan adanya makhluk yang sedang melayang di atas kita. Halusinasi yang menyertai kelumpuhan tidur ini bisa dalam berbagai bentuk, seperti eksosomatik (gelombang, getaran, dan ada gemetar), akustik (dering bernada tinggi atau suara yang keras), visual (cahaya atau persepsi ekstrim terhadap suatu objek), somatosensori (perasaan tubuh menjadi bengkok, diputar, ditekan, atau sensasi seperti terbang dan mengambang), dan fisik (tiba-tiba merasa sakit di bagian tubuh).

Sleep paralysis umumnya terjadi pada orang dengan posisi tidur telentang. Waktu tidur, rasa lelah, dan jadwal normal tidur juga berpengaruh. Seseorang yang mengalami kelelahan berlebihan, waktu tidurnya berkurang, atau jadwal normal tidurnya terganggu punya kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami sleep paralysis. Selain itu, orang yang biasa mengkonsumsi obat penenang akan menjadi lebih sering mengalami kejadian tersebut.

Pada dasarnya, tidak perlu panik ketika mengalami sleep paralysis karena hanya berlangsung sesaat. Namun, gejala tersebut tidak dapat dianggap remeh karena bisa jadi merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.

Salah satu cara untuk menghindari sleep paralysis adalah dengan mengubah posisi tidur. Jika gejala tersebut sering dialami, ada baiknya untuk membuat catatan pola tidur selama beberapa minggu. Dengan demikian, dapat diketahui penyebab utama sleep paralysis yang dialami. Jika karena terlalu lelah, dianjurkan untuk memperbanyak istirahat. Di samping itu juga disarankan untuk tidur yang cukup dan teratur, mengurangi stres, dan olahraga yang teratur. Selain itu, kondisi ruangan tidur juga patut diperhatikan, apakah pertukaran udara ruangan dengan luar ruangan telah baik karena ruangan yang sesak juga tidak baik untuk pernapasan ketika tidur.

Diolah dari: kompas.com, senior

Monday, August 2, 2010

Ciri-ciri Orang Labil

Belum dapat dikatakan labil seseorang jikalau belum:
1. begitu membenci bayangan sendiri
2. berusaha menemukan mesin waktu
3. berdoa agar mati muda

***
sumpah! ini bukan curhat colongan.

Saturday, July 31, 2010

Ini Budi. Ini Budi Lagi.

Ternyata, sesuatu yang kita anggap mudah dan remeh itu bisa jadi masalah yang menyulitkan kalau tidak dilakukan sungguh-sungguh. Contohnya adalah KTTA saya. Sejak pembuatan outline, rasanya tidak ada passion untuk mengerjakan karya yang seharusnya menjadi adikarya saya sebagai mahasiswa D3 STAN. Alhasil, saya mengerjakannya setengah hati, dan setengah hati itulah yang ternyata membawa beberapa kesulitan.

1. Kebiasaan buruk saya menunda-nunda pekerjaan yang memaksa harus begadang pada malam sebelum deadline outline. Ketika yang 9 orang lain hanya mengajukan draft outline sekali, kemudian revisi (juga sekali), dan ditandatangani oleh dosen pembimbing kami, saya harus melakukan revisi dua kali.

2. Buat orang yang langsung membuat surat survei saja mengalami keterlambatan menerima surat survei, apalagi saya yang menunda-nunda membuat surat survei tanpa alasan. Sebenarnya keterlambatan surat survei saya tidak separah beberapa orang lain --beberapa teman saya terpaksa mengganti judul KTTA karena surat survei yang tak kunjung turun--, tapi surat survei saya baru keluar ketika pegawai Setjen Depdiknas yang jadi objek survei saya harus dinas keluar kota seminggu, dan seminggu setelahnya saya harus menghadapi UTS. Padahal tenggat pengumpulan sudah terhitung dalam waktu mingguan.

3. Saya memaksakan untuk mencari data di pagi hari sebelum UTS KSPK (semestinya). Siangnya, terburu-buru saya dari Senayan menuju Bintaro, agar tidak telat ujian. Sialnya, usaha saya yang mempercepat survei ternyata sia-sia karena begitu tiba di parkiran kampus ada berita bahwa ujian hari itu dibatalkan. Helm saya pun ikutan apes, jatuh ketika saya parkir sehingga kacanya tidak dapat dibuka tutup dengan normal hingga saat ini.

4. Dosen pembimbing (dosbing), Pak Budi Mulyana, saya mengambil cuti ketika waktu pengumpulan kurang dari 1 minggu, sedangkan saya belum sama sekali memperlihatkan draft ke beliau. Alhasil, saya mesti mengurus surat permohoan keterlambatan pengumpulan KTTA.

5. Surat keterlambatan tersebut ternyata harus ditandatangani dosbing, padahal dosbing saya baru masuk 2 hari setelah batas waktu surat keterlambatan tersebut diajukan. Surat keterlambatan saya pun terlambat diajukan. Untungnya, Pak Budi Setiawan yang berwenag atas izin tersebut adalah orang yang pengertian nan baik hati. Meskipun penuh kesabaran menemuinya --dua kali saya mesti menunggu lebih dari 2 jam--, proses izin tersebut sangat mudah. Saya menunggu 3 jam, untuk bicara dengan beliau kurang dari 300 detik.

6. Routing slip, yang katanya berguna untuk yudisium nanti, milik saya hilang. Saya harus minta lagi ke sekretariat, dan mendapatkannya setelah bapak sekre itu mencari-cari di tumpukan-tumpukan kertas. "Kayanya udah abis, mas", katanya beberapa saat sebelum menemukan di tumpukan ketiga.

7. Karena terlambat mengumpulkan, saya mendapat waktu luang untuk menyempurnakan KTTA (walaupun sia-sia sepertinya). Saya survei lagi ke Kemdiknas, dan pulangnya hampir saja saya ditilang karena mau memutar lewat jalur khusus bus keluar terminal karena mencari SPBU yang ternyata sudah dibongkar karena berada di jalur hijau. (Maaf saya kewalahan menulis kalimat efektif)

8. Ketika harus menyerahkan draft, saya kehabisan kertas untuk mencetak. Waktu kurang dari setengah jam, padahal jarak dari rumah saya ke kampus untuk menemui dosen normalnya 45 menit, dan saya harus membeli kertas dulu lalu mencetak draft tersebut. Untung dosbing saya tidak berkomentar apa-apa atas keterlambatan saya yang hampir 1 jam itu.

9. Waktu harus menyerahkan hasil revisi untuk ditandatangani dosbing, kunci motor saya hilang (keselip) dan baru ditemukan setelah grusak-grusuk setengah jam lebih. Dan saya telat lagi.

10. KTTA saya sudah diperiksa dosen penilai (dosnil) dan sudah direvisi. Namun kali ini bukan kertas yang habis, melainkan tinta printernya. Saya akhirnya ke kontrakan, meminjam printer Agus. Harusnya KTTA saya diserahkan pagi, tapi saya baru menemui dosnil sorenya karena ketika siang saya temui, beliau terburu-buru untuk rapat. Itu pun saya salah membawa KTTA yang telah dikoreksi. "Temui saya besok pagi saja", begitu kata dosnil saya dengan bijaknya.

11. Besoknya saya menemui dosnil, dan ternyata harus mencetak ulang lembar penilaian yang mestinya beliau tanda tangani. Kata beliau mestinya bulannya Juli, bukan Juni.

12.Saya menunda meng-hard cover-kan KTTA saya beberapa hari karena mencari-cari lembaran penilaian yang ternyata masuk ke dalam lemari meja belajar saya, padahal saya kira ada di kontrakan.

***
Jauh maksud saya untuk mengeluh dalam poin-poin di atas. Saya hanya mau berbagi. Siapa tahu ada yang sudi menjadikannya pelajaran: segala sesuatu harus dikerjakan sepenuh hati.

sayangnya separuh hati saya masih tertinggal padanya

Monday, July 5, 2010

Memilih adalah Mengambil Pilihan di antara Pilihan-pilihan yang Ada

Saya rasa memang tidak ada salahnya jika orang berkata: hidup itu pilihan. Nyatanya memang dalam menjalani kehidupan, kita sering dihadapi pilihan. Malah di pikiran saya saat ini terlalu banyak pilihan. Setelah mengambil suatu pilihan, ternyata pilihan itu menawarkan pilihan-pilihan lain yang tentunya harus dipilih--buat saya, tidak memilih itu juga berarti memilih--.

Saya beri contoh dalam beragama. Awalnya kita dihadapkan pilihan: percaya Tuhan atau tidak. Ketika memilih percaya, kita dihadapkan pada beragama atau tidak. Pilihan beragama itu menawarkan lagi: Islam, Katolik, Yahudi, dan lain-lain. Setelah memliih Islam, kembali lagi dihadapkan pada pilihan-pilihan lainnya (tanpa bermaksud mengkotak-kotakan). Meskipun kenyataannya, kebanyakan dari kita dalam beragama tidak merasa dalam pilihan. Toh, hampir kebanyakan kita 'dipilihkan' sejak lahir.

Awalnya saya berpendapat bahwa yang penting itu bukanlah ketika kita dihadapkan pilihan dan harus memilih, tapi yang utama adalah bagaimana kita meyakini apa yang telah kita pilih, memperkuatnya, dan menjalankan konsekuensi atas pilihan tersebut. Mungkin bisa dibilang ini salah satu usaha saya dalam mengkonstruksi pikiran sebagai seseorang yang tidak suka menyesal. Namun sepertinya saya mesti mengoreksi pendapat saya. Ternyata, memang semestinya kita tahu pilihan-pilihan yang akan dipilih. Akan lebih baik lagi kita mengetahuinya dengan penuh, termasuk kemungkinan konsekuensi dari pilihan tersebut.

Alasan saya berpikir demikian karena belakangan ini saya sering dilanda keraguan atas pilihan-pilihan yang telah saya lakukan --saya tidak sedang bicara masalah agama--. Nyatanya, saya merasa bahwa saya mesti yakin seyakin-yakinnya pilihan yang saya akan pilih itu adalah yang benar. Mencari tahu lebih banyak dan dengan bersikap adil pada tiap-tiap pilihan seolah-olah menjadi hal yang wajib bagi saya. Namun (lagi), sayangnya, semakin banyak yang saya tahu, semakin besar bimbang yang berkembang. Padahal ada hal-hal dimana tidak ada pilihan untuk "tidak memilih".

Pada akhirnya saya kembali pada pembenaran-pembenaran yang telah saya sebutkan dan menambahkan satu pembenaran lagi: bahwa sebenarnya kita memang 'dicondongkan' pada suatu pilihan karena itu yang harus kita pilih, jalankan, dan pelajari, sehingga kita tahu mana yang benar, mana yang salah.

Tuesday, June 15, 2010

Kiasan

dan bayangan itu kembali mengungkap yang lalu
diam tak bernyawa, bercerita di dalam sepi
*

Saya pernah merasa bahwa kangen itu hal yang indah. Ada dorongan yang membentuk kesimpulan: kalau nanti bertemu, pasti akan lebih menyenangkan. Saya pikir, memang bertemu dengan orang yang sedang dinanti, apalagi jarang bertemu, pasti beda rasanya.

Buat saya yang berpikiran sederhana ini, ketika kangen itu tiba, ya, coba temui saja orangnya, atau kalaupun jauh dan tidak mungkin bertemu langsung, setidaknya hubungi lewat media apapun, toh, fasilitasnya pun sudah lebih dari memadai. Ketika itu pula, rasa kangennya akan sembuh, atau setidaknya berkurang. Begitu sederhananya.

Tapi, bagaimana kalau jangankan bertemu langsung, secara tidak langsung pun rasanya tidak mungkin? Setidaknya ada dua alternatif: coba buka dokumentasi yang ada atau lupakan seketika. Bagi saya yang menyukai sejarah, melupakan masa lalu adalah perbuatan tercela, sedangkan mencoba membolak-balik kenangan malah memperbesar keinginan untuk bertemu.

Sebenarnya ada cara lain, seperti yang cerita Tika kepada Mba Nita (dua-duanya saudara kandung saya), "Mba, semalem Tika mimpi, lagi tidur ada yang ngetok-ngetok jendela. Pas Tika buka, ada Bapak, pake baju biru yang biasa dipake buat jemput Tika sekolah. Terus Bapak dadah sambil senyum. Tika seneng banget deh bisa ketemu Bapak."

di kiasan kita bertemu dan berjalan di kertasku*

*Monkey to Millionaire - Kiasan