sampai kapan kita menjebakkan diri pada belenggu simbolisasi, peringatan-peringatan tahunan, turun ke jalan-jalan, teriak-teriak mengkritisasi, mengkritik demi nasi;
dan sampai kapan kita menjadi pelupa pada cerita-cerita, derita-derita, manusia-manusia, yang tidak terlihat mata tanpa mesti berpura-pura buta;
kemudian sampai kapan kita saling memalingkan muka, menundukkan kepala sambil menyulam luka?
Saturday, February 18, 2012
Friday, February 17, 2012
Rindu itu Sembilu, Biru
Jika saja kamu di sini, Biru, pasti akan saya ajak kamu jalan-jalan ke Dompu tiap akhir minggu. Atau pergi ke Monta untuk itu guru TK kelahiran sembilan dua. Atau keliling kota demi mencari lokasi Bank Pundi. Haha.
Tapi benar, Biru: rindu itu sembilu.
Tapi benar, Biru: rindu itu sembilu.
Saturday, December 24, 2011
Adios, Biru :'(
Saya pikir hampir semua orang akan sepakat jika saya bilang hal yang paling tidak menyenangkan dari sebuah kebersamaan yang menyenangkan adalah kepastian adanya perpisahan. Sebenarnya ada bagian yang menjadikan hal yang tidak menyenangkan tersebut lebih tidak menyenangkan lagi: berpisah tanpa ucapan selamat tinggal.
Ah, saya pun tidak mampu bercerita tujuh tahu kebersamaan kami di sini saat ini. Yang bisa saya lakukan adalah berharap keberadaannya kembali berarti lagi. Itu yang harus dia tahu dan paham mengapa saya mesti melepasnya. Bukan berarti dia yang mulai membosankan, atau saya tak tahan lagi dengan kebosanan. Bukan.
![]() |
| semoga saya tidak perlu merindukan masa itu |
Saturday, October 8, 2011
Halo, Blog!
sama kaya orang-orang yang nggak ditemui beberapa tahun belakangan ini, lama ngga nulis blog ternyata juga bisa bikin kangen. setidaknya beberapa blogger yang saya kunjungi blognya, seperti pidi baiq, juga jenny (yang sekarang jadi festivalist), juga oshin, pernah merasa demikian. saya kangen kamu, blog. hehe.
kalo ngomongin sepeda, saya jadi inget tadi pagi. minggu, eh, sabtu lalu saya akhirnya beli sepeda lagi meskipun baru beli dua bulan lalu di bima. sepeda yang di bima nggak saya bawa pulang. kayanya mahal biaya kirimnya. itung-itung beliin buat si tika juga, berhubung sepeda yang di rumah udah nggak layak digowes lagi. terakhir saya pake sepeda lama itu bannya pecah, beberapa hari sebelumnya rantainya putus. itu kejadian lebih dari setahun lalu. jadi ceritanya tadi pagi saya sepedaan. rencana awalnya sih mau ke kemanggisan, ke pusdiklat pajak buat ngitung waktu tempuh rumah-pusdiklat. siapa tau saya mau b2d (bike to diklat). terus pulangnya mampir ke rumah moli buat minjem film sama minjemin buku.
kalo ngomongin kangen, berarti nggak lepas dari masa lalu. kalo ngomongin masa lalu, saya jadi inget masa-masa saya esde dulu. dulu jarak dari rumah ke sekolah saya itu sekitar satu kilo. satu kilo itu kira-kira sama kaya dari sekolah ke rumah saya. satu kilo itu biasanya saya tempuh dengan sepeda. kalo pas kelas satu saya dianter jemput sama lik (panggilan untuk adik orang tua /jawa/) saya, dari kelas dua sampai kelas lima saya bawa sepeda sendiri. biasanya saya berangkat sama temen saya depan rumah, piki namanya. saya dan piki itu temen akrab. pernah pas pulang ban sepedanya bocor, dia tuntunlah sepedanya, ya, saya juga ikutan nuntun. pernah juga kunci gembok buat rantai yang ngiket sepeda kita itu hilang oleh saya. alhasil saya sama piki pulang dulu, manggil bapaknya piki, terus balik lagi ke sekolah sambil bawa tang buat mutusin itu rantai. eh, besoknya kunci gemboknya ketemu di bawah meja di kelas.
![]() |
| pacar pertama saya di bima |
tapi rencana cuma sekedar rencana. berhubung temen yang bisa diajakin itu aguy, saya jadinya mengubah haluan ke ui depok. berangkat jam lima lewat, nyamperin ke rumah aguy di ciganjur yang ternyata si aguy masih tidur. berangkat sekitar jam enam, sampe di kukusan ternyata gerimis lumayan lebat, akhirnya sarapan bubur ayam dulu sekalian neduh. setelah bubur abis dan ujan reda, saya ngelanjutin gowes, sama aguy juga, ke ui. ternyata seru juga sepedaan di sana, meskipun, entah kenapa, saya agak sentimen sama kampus satu ini.
pulangnya juga ujan, tapi yang ini aguy udah sampe rumahnya, dan saya neduh sendiri. ujan belum reda bener, saya ngelanjutin perjalanan pulang. sepedaan di gerimis itu rasanya bikin saya jadi melankolis-melankolis gimana gitu. damai, sejuk, bau tanah. pulangnya tepar dan tidur dari jam sepuluh sampe azan zuhur. capek, tapi puas. eh, sorenya si kanda ngajakin ke ui lagi. karena udah ke sana tadi pagi dan masih capek, saya tolak. eh, dia malah ngajakin ke bunderan hi malem-malem. menggoda sih, tapi mengingat sepeda saya belum ada lampunya, lain kali lebih baik sepertinya, setelah dipasangin lampu itu sepeda saya. besok rencananya sih mau ke kemanggisan, udah janjian sama fandi. mudah-mudahan nggak ujan.
eh, kok jadi ngomongin sepedaan ya? ah, gapapa juga. yang penting udah berinteraksi sama kamu, blog. apapun bentuknya.
eh, kok jadi ngomongin sepedaan ya? ah, gapapa juga. yang penting udah berinteraksi sama kamu, blog. apapun bentuknya.
Friday, June 10, 2011
Bayangkanlah
Karena hidup tidak selalu terasa indah, sedangkan kita mesti siap menghadapi semua yang akan terjadi, berekspektasi pada hal-hal yang tak diinginkan menjadi penting adanya.
bayangkanlah, bila mata tak mampu lagi memandang...
bayangkanlah, bila mata tak mampu lagi memandang...
Monday, March 14, 2011
Bucket List
Waktu kecil dulu, sekitar 3--6 tahun-an, kalau ditanya: "cita-citanya apa, ip?" Saya yang umur-umur segitu lagi keranjingan Kotaro Minami, Jason, Billy, Trini, Kimberley, dan Jack (eh, ranger hitam itu Jack atau Adam?) dengan senang menjawab, "mau jadi polisi, biar bisa nangkepin penjahat." Beranjak sekolah, cita-cita juga ikut berubah, pernah mau jadi pemain bola--meskipun kalau lari lima menit napas jadi Senin--Kamis--, pernah juga mau jadi peneliti yang akhirnya bingung sendiri: "peneliti itu kerjanya apa ya?" Hingga tiga cita-cita yang saya tulis di biodata buku tahunan SMA: jadi dokter, foto saya dipajang di sebelah kiri Burung Garuda, dan jadi bapak. Untuk jadi bapak saya masih punya harapan (dan sangat-sangat berharap saya jadi bapak, bukan ibu). Kalau jadi presiden saya pikir-pikir ulang lagi kalau liat kondisi sekarang: tanggung jawabnya terlalu besar, apa-apa disalahin, ada masalah ujung-ujungnya pemerintah, padahal gaji tidak lebih besar daripada gaji Direktur Pertamina (ini yang terakhir saya tahu, ya. Kalau ternyata sekarang gaji presiden lebih tinggi pun tetap saya tidak mau) Lagipula presiden itu jabatan, jabatan itu amanah, amanah bukan untuk dicari meskipun jika diberi amanah jangan lari. Yang lebih penting lagi: memang ada yang percaya saya untuk jadi pemimpin? Jadi korlip dan mengurus ikatan alumni saja amburadul dan menyebabkan kebotakan dini pada kepala saya. Tapi, intinya adalah dulu saya selalu senang jika ditanya tentang mau jadi apa saya di masa depan, bagaimanapun kondisi saya setelah itu. Seakan ada semangat tambahan jika menceritakan harapan ke orang-orang.
Untuk cita-cita jadi dokter, saya pikir inilah "initial problem" (maksudnya adalah masalah yang menjadi awal dari masalah-masalah terkait) saya dalam memiliki dan meraih cita-cita. Setelah gagal SNMPTN seakan-akan kegagalan meraih cita-cita saya datang berbaris-baris dan jadi hal yang biasa saja. Alih-alih semakin gigih berusaha, saya malah takut memiliki cita-cita. Lihat saja postingan saya terdahulu, dari belasan target yang saya canangkan, yang saya jalankan hanya beberapa, dan itu pun putus di tengah jalan.
Sayangnya, seakan melihat ketakutan saya untuk memiliki cita-cita, ketika tingkat tiga di STAN, dosen KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian) saya yang ternyata aktif jadi pengisi rubrik di eramuslim.com dan dakwatuna.com memberi tugas untuk membuat semacam life map untuk jangka panjang. Alhasil, jadilah tugas itu sebuah proyek kebohongan: membohongi dosen saya dan diri sendiri karena menulis cita-cita palsu. Jadinya seperti ini:
Meskipun cita-cita yang dituliskan itu bohong-bohongan, karena saya sudah terlanjur mempublikasikannya dan sebagai laki-laki, saya merasa punya kewajiban untuk mewujudkannya, atau setidaknya mengusahakan untuk mewujudkannya, atau setidaknya (lagi) meniatkan untuk mengusahakan demi mewujudkannya. Lagipula sampai saat ini belum ada yang tertulis di sana mesti direvisi.
Untuk cita-cita jadi dokter, saya pikir inilah "initial problem" (maksudnya adalah masalah yang menjadi awal dari masalah-masalah terkait) saya dalam memiliki dan meraih cita-cita. Setelah gagal SNMPTN seakan-akan kegagalan meraih cita-cita saya datang berbaris-baris dan jadi hal yang biasa saja. Alih-alih semakin gigih berusaha, saya malah takut memiliki cita-cita. Lihat saja postingan saya terdahulu, dari belasan target yang saya canangkan, yang saya jalankan hanya beberapa, dan itu pun putus di tengah jalan.
Sayangnya, seakan melihat ketakutan saya untuk memiliki cita-cita, ketika tingkat tiga di STAN, dosen KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian) saya yang ternyata aktif jadi pengisi rubrik di eramuslim.com dan dakwatuna.com memberi tugas untuk membuat semacam life map untuk jangka panjang. Alhasil, jadilah tugas itu sebuah proyek kebohongan: membohongi dosen saya dan diri sendiri karena menulis cita-cita palsu. Jadinya seperti ini:
Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana life-map itu mesti dibuat. Saya pun ambil simpel saja, saya print gambar-gambar diatas seukuran kotak kopi per gambar, saya rekatkan pada karton, kemudian saya masukkan ke dalam kotak kopi yang telah dilapisi kertas dan ditulisi Bucket List dengan krayon macam anak TK.
Meskipun cita-cita yang dituliskan itu bohong-bohongan, karena saya sudah terlanjur mempublikasikannya dan sebagai laki-laki, saya merasa punya kewajiban untuk mewujudkannya, atau setidaknya mengusahakan untuk mewujudkannya, atau setidaknya (lagi) meniatkan untuk mengusahakan demi mewujudkannya. Lagipula sampai saat ini belum ada yang tertulis di sana mesti direvisi.
Subscribe to:
Posts (Atom)













