Pak, lawan Juve, Milan menang.
3 - 0, Pak. Padahal mereka main tandang.
Monday, January 11, 2010
Thursday, January 7, 2010
Resolusi 2010
Berhubung resolusi untuk tahun ini belum saya buat, maka saya mencoba mencicil memikirkannya dari posting ini.
Hal yang pertama harus dilakukan adalah mencoba kembali bermimpi. Terus terang, setelah mengalami beberapa kegagalan besar di tahun-tahun terakhir, saya merasa bukan apa-apa, "i'm nothing", dan takut untuk berharap lagi. Sabtu kemarin saya menceritakannya dalam sebuah lingkaran, dan seseorang berkata, "kalau berhenti bermimpi, maka kamu akan kehilangan arah."
Saat ini saya sudah mencoba bermimpi. Dan mimpi saya saat ini: IP semester ini 3,6.
Hal lainnya yang saya coba targetkan untuk tahun ini adalah lebih produktif membuat tulisan, mungkin blog ini menjadi media pengejawantahannya. (Target saya 1 minggu, 1 artikel. Dan alhamdulillah, dengan ini target pertama berhasil :D )
Untuk hal lainnya, saya mencoba untuk memikirkannya lebih dalam lagi. Karena pengalaman, saya berusaha untuk lebih realistis dari sebelumnya.
Meskipun demikian, saya sudah memberikan tema besar untuk resolusi saya tahun ini:
2010: Berani!
Semoga saja.
Hal yang pertama harus dilakukan adalah mencoba kembali bermimpi. Terus terang, setelah mengalami beberapa kegagalan besar di tahun-tahun terakhir, saya merasa bukan apa-apa, "i'm nothing", dan takut untuk berharap lagi. Sabtu kemarin saya menceritakannya dalam sebuah lingkaran, dan seseorang berkata, "kalau berhenti bermimpi, maka kamu akan kehilangan arah."
Saat ini saya sudah mencoba bermimpi. Dan mimpi saya saat ini: IP semester ini 3,6.
Hal lainnya yang saya coba targetkan untuk tahun ini adalah lebih produktif membuat tulisan, mungkin blog ini menjadi media pengejawantahannya. (Target saya 1 minggu, 1 artikel. Dan alhamdulillah, dengan ini target pertama berhasil :D )
Untuk hal lainnya, saya mencoba untuk memikirkannya lebih dalam lagi. Karena pengalaman, saya berusaha untuk lebih realistis dari sebelumnya.
Meskipun demikian, saya sudah memberikan tema besar untuk resolusi saya tahun ini:
2010: Berani!
Semoga saja.
Thursday, December 24, 2009
Pengendara Babi
kenapa merasa pintar, setelah etika kamu langgar;
dan begitu bahagia, saat berbuat aniaya?
hinalah kalian banci-banci pengendara babi,
yang tertawa gembira karena berhasil menerobos lampu merah,
yang tak pernah merasa salah karena memang berjamaah.
dan begitu bahagia, saat berbuat aniaya?
hinalah kalian banci-banci pengendara babi,
yang tertawa gembira karena berhasil menerobos lampu merah,
yang tak pernah merasa salah karena memang berjamaah.
Sunday, December 13, 2009
Setahun Kemarin
Setahun Kemarin - Kahitna
di ujung jalan itu setahun kemarin
ku teringat ku menunggumu
bidadari belahan jiwaku
entah berapa lama satu jam menanti
kutermenung
kencan pertama hilang tak bertepi di anganku
melangkah pergi
berteman sepi
berbayang teduh matamu
sayang, walau bulan tak bercahaya
cintaku selalu dalam jiwa
di lubuk hati terdalam
sayang, jika memang kau sungguh sayang
diriku takkan berpaling lagi
kupeluk selamanya
***
Entah, (atau sebenarnya saya sudah tahu) saya sedang ingin mendengar lagu ini berulang-ulang. Memang sebenarnya jika secara keseluruhan, lirik lagu ini berbeda dengan apa yang terjadi pada saya setahun lalu (meskipun memang terjadi di ujung jalan).
di ujung jalan itu setahun kemarin
ku teringat ku menunggumu
bidadari belahan jiwaku
entah berapa lama satu jam menanti
kutermenung
kencan pertama hilang tak bertepi di anganku
melangkah pergi
berteman sepi
berbayang teduh matamu
sayang, walau bulan tak bercahaya
cintaku selalu dalam jiwa
di lubuk hati terdalam
sayang, jika memang kau sungguh sayang
diriku takkan berpaling lagi
kupeluk selamanya
***
Entah, (atau sebenarnya saya sudah tahu) saya sedang ingin mendengar lagu ini berulang-ulang. Memang sebenarnya jika secara keseluruhan, lirik lagu ini berbeda dengan apa yang terjadi pada saya setahun lalu (meskipun memang terjadi di ujung jalan).
Thursday, December 10, 2009
Tentang Hidup
Suatu sore, Tika, adik perempuan saya yang saat ini kelas 2 SMP, tiba-tiba saja bertanya: “Mas, arti hidup itu apa sih?”
***
Hingga saat ini saya sering mendengar orang berkata, “Saya yang sudah hidup hingga …tahun saja masih belum mengerti maksud saya hidup apa.” Sementara beberapa orang mencoba mengartikan hidup dengan lebih filosofis. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah perjalanan. Hidup adalah .... Jika ditanya mana yang tepat, maka saya akan menjawab semuanya tepat karena memang seharusnya demikian hidup itu, atau saya pun dapat menjawab semuanya salah karena hidup tidak terbatas pada filosofi yang demikian abstrak dan cenderung memaka jika diartikan.
Namun saya tak dapat, pun tak boleh, memungkiri ayat keduapuluh dari surat Al Hadid:
“Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
Daripada berkontemplasi mencari makna hidup sebenarnya, saya lebih suka bertanya tentang tujuan hidup. Toh, pada dasarnya mencapai titik yang sama. Pencarian makna hidup akan bermuara pada bagaimana seseorang menjalani hidupnya sesuai dengan arti hidup yang telah ditemukannya dan dianutnya. Sementara dengan mengetahui tujuan hidup, malah akan terlihat lebih jelas arah hidup kita. Analoginya yaitu “pergi ke Gramedia untuk membeli buku” akan terlihat lebih nyata daripada “pergi membeli buku”.
Meskipun saya termasuk orang yang suka berfilosofi, saya tidak mau berfilosofi untuk masalah tujuan hidup. Apalagi sebagai seorang yang mengaku beriman –dan berusaha “menggigit dengan geraham” apa yang saya percaya—, saya tidak berpikir untuk repot-repot mencari tujuan hidup. Dalam sebuah “manual kehidupan” yang tak dapat dipungkiri kebenarannya tertulis:
“Tidaklah Ku-ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q. S. Adz Dzariyat: 56)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“. (Q. S. Al-Baqarah: 30)
Memang tidaklah cukup untuk memahami dua tujuan di atas dengan membacanya saja. Tapi, mengingat kapabilitas dan kapasitas saya yang belum memadai, saya tak berani untuk mengajinya sendiri di sini. Saya hanya mengajak untuk mengajinya lebih dalam kepada orang-orang yang tepat.
Di luar itu semua, masih mengenai hidup, saya begitu terpesona pada sebuah analogi dari orang yang begitu saya kagumi:
"Kehidupan di dunia itu seperti sebuah pohon yang rindang di tengah perjalanan yang panjang, kemudian kita beristirahat di bawahnya."
Ya, hidup itu memang melenakan, tapi bukanlah tujuan yang sebenarnya dari keberadaan kita. Saya pun merasa iba melihat orang-orang yang menjadikan hidup di dunia sebagai tujuan akhirnya.
***
Ditanya seperti itu oleh adik saya, membuat saya bingung. Kebingungan kenapa dia bisa-bisanya bertanya seperti itu –saya merasa Tika mulai teracuni pikiran-pikiran sok filosofis dan idealis saya, meskipun ketika saya tanya dia hanya menjawab, “cuma nanya aja”— dan bingung menjawabnya. Saya, yang saat itu sedang sibuk dengan iga terakhir dari sop saya, menjawab sekenanya, “hidup, ya, proses sebelum mati.”
***
Hingga saat ini saya sering mendengar orang berkata, “Saya yang sudah hidup hingga …tahun saja masih belum mengerti maksud saya hidup apa.” Sementara beberapa orang mencoba mengartikan hidup dengan lebih filosofis. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah perjalanan. Hidup adalah .... Jika ditanya mana yang tepat, maka saya akan menjawab semuanya tepat karena memang seharusnya demikian hidup itu, atau saya pun dapat menjawab semuanya salah karena hidup tidak terbatas pada filosofi yang demikian abstrak dan cenderung memaka jika diartikan.
Namun saya tak dapat, pun tak boleh, memungkiri ayat keduapuluh dari surat Al Hadid:
“Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
Daripada berkontemplasi mencari makna hidup sebenarnya, saya lebih suka bertanya tentang tujuan hidup. Toh, pada dasarnya mencapai titik yang sama. Pencarian makna hidup akan bermuara pada bagaimana seseorang menjalani hidupnya sesuai dengan arti hidup yang telah ditemukannya dan dianutnya. Sementara dengan mengetahui tujuan hidup, malah akan terlihat lebih jelas arah hidup kita. Analoginya yaitu “pergi ke Gramedia untuk membeli buku” akan terlihat lebih nyata daripada “pergi membeli buku”.
Meskipun saya termasuk orang yang suka berfilosofi, saya tidak mau berfilosofi untuk masalah tujuan hidup. Apalagi sebagai seorang yang mengaku beriman –dan berusaha “menggigit dengan geraham” apa yang saya percaya—, saya tidak berpikir untuk repot-repot mencari tujuan hidup. Dalam sebuah “manual kehidupan” yang tak dapat dipungkiri kebenarannya tertulis:
“Tidaklah Ku-ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q. S. Adz Dzariyat: 56)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“. (Q. S. Al-Baqarah: 30)
Memang tidaklah cukup untuk memahami dua tujuan di atas dengan membacanya saja. Tapi, mengingat kapabilitas dan kapasitas saya yang belum memadai, saya tak berani untuk mengajinya sendiri di sini. Saya hanya mengajak untuk mengajinya lebih dalam kepada orang-orang yang tepat.
Di luar itu semua, masih mengenai hidup, saya begitu terpesona pada sebuah analogi dari orang yang begitu saya kagumi:
"Kehidupan di dunia itu seperti sebuah pohon yang rindang di tengah perjalanan yang panjang, kemudian kita beristirahat di bawahnya."
Ya, hidup itu memang melenakan, tapi bukanlah tujuan yang sebenarnya dari keberadaan kita. Saya pun merasa iba melihat orang-orang yang menjadikan hidup di dunia sebagai tujuan akhirnya.
***
Ditanya seperti itu oleh adik saya, membuat saya bingung. Kebingungan kenapa dia bisa-bisanya bertanya seperti itu –saya merasa Tika mulai teracuni pikiran-pikiran sok filosofis dan idealis saya, meskipun ketika saya tanya dia hanya menjawab, “cuma nanya aja”— dan bingung menjawabnya. Saya, yang saat itu sedang sibuk dengan iga terakhir dari sop saya, menjawab sekenanya, “hidup, ya, proses sebelum mati.”
Friday, November 13, 2009
Gelap
kenapa kamu tak suka gelap?
bukankah ia adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang?
bukankah ia yang menjadikannya tiada kabur maupun berjamur?
apa yang kamu takutkan dari gelap?
padahal ada cinta yang menerangi di tiapnya
sedangkan aku selalu pasti mengikuti lewat mimpi di tiap sudutnya
jangan takut akan gelap, karena gelap melindungi kita dari kelelahan
tiga kegelapan pun yang menjaga kita sebelum turun di dunia
mungkin kamu gemetar akan kegelapan yang tiba ketika turun dari keranda?
padahal sepenggal bulan akan kembali
menjadi purnama yang terang
meskipun kadang cahayanya menutupi gemintang
sehingga gadis kecil bernama Adya begitu membencinya
ataukah kita masih akan terus berbantah:
gelap itu tiada
yang ada adalah ketiadaan cahaya
***
Di tengah gelap karena listrik PLN yang sedang hobi turun, lebih baik saya mencoba menulis inspirasi yang terbentuk daripada terus-menerus merutuk hingga suntuk dan akhirnya menyerah pada kantuk.
Baiklah, saya mengaku. Saya terinspirasi dari sebuah tulisan dari blog yang katanya hidden blog yang dibuat oleh orang yang tergila-gila dengan bulan.
Apa benar kalau purnama itu racun?
bukankah ia adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang?
bukankah ia yang menjadikannya tiada kabur maupun berjamur?
apa yang kamu takutkan dari gelap?
padahal ada cinta yang menerangi di tiapnya
sedangkan aku selalu pasti mengikuti lewat mimpi di tiap sudutnya
jangan takut akan gelap, karena gelap melindungi kita dari kelelahan
tiga kegelapan pun yang menjaga kita sebelum turun di dunia
mungkin kamu gemetar akan kegelapan yang tiba ketika turun dari keranda?
padahal sepenggal bulan akan kembali
menjadi purnama yang terang
meskipun kadang cahayanya menutupi gemintang
sehingga gadis kecil bernama Adya begitu membencinya
ataukah kita masih akan terus berbantah:
gelap itu tiada
yang ada adalah ketiadaan cahaya
***
Di tengah gelap karena listrik PLN yang sedang hobi turun, lebih baik saya mencoba menulis inspirasi yang terbentuk daripada terus-menerus merutuk hingga suntuk dan akhirnya menyerah pada kantuk.
Baiklah, saya mengaku. Saya terinspirasi dari sebuah tulisan dari blog yang katanya hidden blog yang dibuat oleh orang yang tergila-gila dengan bulan.
Apa benar kalau purnama itu racun?
Wednesday, October 14, 2009
IPK Saya 2,87. Apakah Mesti Bersyukur?
IPK yang ditunggu sejak berminggu-minggu lalu akhirnya keluar juga. 2,87, angka yang dapat dibilang rendah dalam skala mahasiswa STAN. Apalagi jika dihitung-hitung, ternyata IP semester ini turun drastis dari sebelumnya. IP semeser ini sekitar 2,7 padahal semester sebelumnya 2,97. Kecewa? Belum tentu. Sepertinya saya harus bersyukur atas angka 2,87 tersebut jika mengingat usaha saya kemarin-kemarin.
Tak pantaskah kita untuk bersyukur atas apapun yang kita alami? Apapun itu, termasuk IP yang rendah, sebuah bencana alam, maupun "penghinaan".
Gempa di Tasik, Padang, dan tempat lainnya adalah sebuah peringatan. Peringatan itu adalah suatu hal yang mestinya kita syukuri karena Alloh masih menyayangi kita dengan memberikan peringatanNya. Pun sepatutnya kita bersyukur masih diberikan kesempatan bisa memikirkannya serta memperbaiki apa yang telah salah kita perbuat. Cobalah bayangkan kalau saat ini kita terjepit dalam reruntuhan beton, kaki tertusuk baja konstruksi, dan nafas mulai sesak, sedangkan kita baru saja membentak orang tua kita, belum sholat Isya, dan sedang bertengkar dengan seorang teman. Semoga kita bisa bersyukur dengan keadaan kita saat ini.
Tentang hal sebuah "penghinaan", mengenai kebudayaan kita, yang kata media, diakui oleh Malaysia. Tidak semestinyakah kita berterima kasih karenanya budaya tradisional kita yang semakin tersingkirkan oleh roda globalisasi kini kembali "naik daun"? Lalu, tidakkah semestinya para pedagang batik itu bersyukur karena omsetnya akhir-akhir ini naik berkali-kali lipat?
Apabila mau dicerna lebih baik lagi, ternyata setiap peristiwa, tragedi sekalipun, memiliki bagian-bagian yang patut disyukuri, baik kini atau nanti.
Sehingga tidak ada salahnya dengan cerita seorang yang terjatuh dari sepeda dan lututnya berdarah, lalu seorang lain berkata: "ah, syukurlah. untung bukan kena kepala."
Tidak ada kata terlambat untuk bersyukur, karena terkadang kesadaran untuk bersyukur memang baru datang setelah kita mengetahui hikmah suatu peristiwa. Selain itu, bersyukur tidak hanya terbatas pada kata "alhamdulillah", apalagi kemudian berpuas pada keadaan yang berlangsung. Bersyukur tidak serta-merta berarti menikmati apa adanya.
Kembali pada konteks IP, saya sangat bersyukur, meskipun IP saya terbilang buruk, saya masih bisa melanjutkan pendidikan di kampus saya yang sekarang ini, atau singkatnya: saya tidak DO. Bersyukur berbeda dengan berpuas diri dengan keadaan saat ini. Karena saya harus mencetak IP 3,6 di semester depan.
Saya juga bersyukur atas tidak terdepaknya saya, karena dengan begitu saya tidak perlu menambah waktu saya untuk menjadi mapan demi jenjang kehidupan saya berikutnya, serta tak perlu mengubah terlalu banyak rencana hidup saya.
Nikah muda? Saya sih tidak mau nikah tua.
Tak pantaskah kita untuk bersyukur atas apapun yang kita alami? Apapun itu, termasuk IP yang rendah, sebuah bencana alam, maupun "penghinaan".
Gempa di Tasik, Padang, dan tempat lainnya adalah sebuah peringatan. Peringatan itu adalah suatu hal yang mestinya kita syukuri karena Alloh masih menyayangi kita dengan memberikan peringatanNya. Pun sepatutnya kita bersyukur masih diberikan kesempatan bisa memikirkannya serta memperbaiki apa yang telah salah kita perbuat. Cobalah bayangkan kalau saat ini kita terjepit dalam reruntuhan beton, kaki tertusuk baja konstruksi, dan nafas mulai sesak, sedangkan kita baru saja membentak orang tua kita, belum sholat Isya, dan sedang bertengkar dengan seorang teman. Semoga kita bisa bersyukur dengan keadaan kita saat ini.
Tentang hal sebuah "penghinaan", mengenai kebudayaan kita, yang kata media, diakui oleh Malaysia. Tidak semestinyakah kita berterima kasih karenanya budaya tradisional kita yang semakin tersingkirkan oleh roda globalisasi kini kembali "naik daun"? Lalu, tidakkah semestinya para pedagang batik itu bersyukur karena omsetnya akhir-akhir ini naik berkali-kali lipat?
Apabila mau dicerna lebih baik lagi, ternyata setiap peristiwa, tragedi sekalipun, memiliki bagian-bagian yang patut disyukuri, baik kini atau nanti.
Sehingga tidak ada salahnya dengan cerita seorang yang terjatuh dari sepeda dan lututnya berdarah, lalu seorang lain berkata: "ah, syukurlah. untung bukan kena kepala."
Tidak ada kata terlambat untuk bersyukur, karena terkadang kesadaran untuk bersyukur memang baru datang setelah kita mengetahui hikmah suatu peristiwa. Selain itu, bersyukur tidak hanya terbatas pada kata "alhamdulillah", apalagi kemudian berpuas pada keadaan yang berlangsung. Bersyukur tidak serta-merta berarti menikmati apa adanya.
Kembali pada konteks IP, saya sangat bersyukur, meskipun IP saya terbilang buruk, saya masih bisa melanjutkan pendidikan di kampus saya yang sekarang ini, atau singkatnya: saya tidak DO. Bersyukur berbeda dengan berpuas diri dengan keadaan saat ini. Karena saya harus mencetak IP 3,6 di semester depan.
Saya juga bersyukur atas tidak terdepaknya saya, karena dengan begitu saya tidak perlu menambah waktu saya untuk menjadi mapan demi jenjang kehidupan saya berikutnya, serta tak perlu mengubah terlalu banyak rencana hidup saya.
Nikah muda? Saya sih tidak mau nikah tua.
Subscribe to:
Posts (Atom)