Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up
Life is good, yes it’s good, I’ve got food!
Friday, June 10, 2011
Bayangkanlah
Karena hidup tidak selalu terasa indah, sedangkan kita mesti siap menghadapi semua yang akan terjadi, berekspektasi pada hal-hal yang tak diinginkan menjadi penting adanya.
bayangkanlah, bila mata tak mampu lagi memandang...
bayangkanlah, bila mata tak mampu lagi memandang...
Monday, March 14, 2011
Bucket List
Waktu kecil dulu, sekitar 3--6 tahun-an, kalau ditanya: "cita-citanya apa, ip?" Saya yang umur-umur segitu lagi keranjingan Kotaro Minami, Jason, Billy, Trini, Kimberley, dan Jack (eh, ranger hitam itu Jack atau Adam?) dengan senang menjawab, "mau jadi polisi, biar bisa nangkepin penjahat." Beranjak sekolah, cita-cita juga ikut berubah, pernah mau jadi pemain bola--meskipun kalau lari lima menit napas jadi Senin--Kamis--, pernah juga mau jadi peneliti yang akhirnya bingung sendiri: "peneliti itu kerjanya apa ya?" Hingga tiga cita-cita yang saya tulis di biodata buku tahunan SMA: jadi dokter, foto saya dipajang di sebelah kiri Burung Garuda, dan jadi bapak. Untuk jadi bapak saya masih punya harapan (dan sangat-sangat berharap saya jadi bapak, bukan ibu). Kalau jadi presiden saya pikir-pikir ulang lagi kalau liat kondisi sekarang: tanggung jawabnya terlalu besar, apa-apa disalahin, ada masalah ujung-ujungnya pemerintah, padahal gaji tidak lebih besar daripada gaji Direktur Pertamina (ini yang terakhir saya tahu, ya. Kalau ternyata sekarang gaji presiden lebih tinggi pun tetap saya tidak mau) Lagipula presiden itu jabatan, jabatan itu amanah, amanah bukan untuk dicari meskipun jika diberi amanah jangan lari. Yang lebih penting lagi: memang ada yang percaya saya untuk jadi pemimpin? Jadi korlip dan mengurus ikatan alumni saja amburadul dan menyebabkan kebotakan dini pada kepala saya. Tapi, intinya adalah dulu saya selalu senang jika ditanya tentang mau jadi apa saya di masa depan, bagaimanapun kondisi saya setelah itu. Seakan ada semangat tambahan jika menceritakan harapan ke orang-orang.
Untuk cita-cita jadi dokter, saya pikir inilah "initial problem" (maksudnya adalah masalah yang menjadi awal dari masalah-masalah terkait) saya dalam memiliki dan meraih cita-cita. Setelah gagal SNMPTN seakan-akan kegagalan meraih cita-cita saya datang berbaris-baris dan jadi hal yang biasa saja. Alih-alih semakin gigih berusaha, saya malah takut memiliki cita-cita. Lihat saja postingan saya terdahulu, dari belasan target yang saya canangkan, yang saya jalankan hanya beberapa, dan itu pun putus di tengah jalan.
Sayangnya, seakan melihat ketakutan saya untuk memiliki cita-cita, ketika tingkat tiga di STAN, dosen KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian) saya yang ternyata aktif jadi pengisi rubrik di eramuslim.com dan dakwatuna.com memberi tugas untuk membuat semacam life map untuk jangka panjang. Alhasil, jadilah tugas itu sebuah proyek kebohongan: membohongi dosen saya dan diri sendiri karena menulis cita-cita palsu. Jadinya seperti ini:
Meskipun cita-cita yang dituliskan itu bohong-bohongan, karena saya sudah terlanjur mempublikasikannya dan sebagai laki-laki, saya merasa punya kewajiban untuk mewujudkannya, atau setidaknya mengusahakan untuk mewujudkannya, atau setidaknya (lagi) meniatkan untuk mengusahakan demi mewujudkannya. Lagipula sampai saat ini belum ada yang tertulis di sana mesti direvisi.
Untuk cita-cita jadi dokter, saya pikir inilah "initial problem" (maksudnya adalah masalah yang menjadi awal dari masalah-masalah terkait) saya dalam memiliki dan meraih cita-cita. Setelah gagal SNMPTN seakan-akan kegagalan meraih cita-cita saya datang berbaris-baris dan jadi hal yang biasa saja. Alih-alih semakin gigih berusaha, saya malah takut memiliki cita-cita. Lihat saja postingan saya terdahulu, dari belasan target yang saya canangkan, yang saya jalankan hanya beberapa, dan itu pun putus di tengah jalan.
Sayangnya, seakan melihat ketakutan saya untuk memiliki cita-cita, ketika tingkat tiga di STAN, dosen KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian) saya yang ternyata aktif jadi pengisi rubrik di eramuslim.com dan dakwatuna.com memberi tugas untuk membuat semacam life map untuk jangka panjang. Alhasil, jadilah tugas itu sebuah proyek kebohongan: membohongi dosen saya dan diri sendiri karena menulis cita-cita palsu. Jadinya seperti ini:
Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana life-map itu mesti dibuat. Saya pun ambil simpel saja, saya print gambar-gambar diatas seukuran kotak kopi per gambar, saya rekatkan pada karton, kemudian saya masukkan ke dalam kotak kopi yang telah dilapisi kertas dan ditulisi Bucket List dengan krayon macam anak TK.
Meskipun cita-cita yang dituliskan itu bohong-bohongan, karena saya sudah terlanjur mempublikasikannya dan sebagai laki-laki, saya merasa punya kewajiban untuk mewujudkannya, atau setidaknya mengusahakan untuk mewujudkannya, atau setidaknya (lagi) meniatkan untuk mengusahakan demi mewujudkannya. Lagipula sampai saat ini belum ada yang tertulis di sana mesti direvisi.
Monday, February 21, 2011
Acak
Karena kebetulan sekali saya tiba-tiba ingin menulis sesuatu, walaupun tidak punya gagasan yang utuh untuk membuat sebuah tulisan, saya memutuskan untuk menulis hal-hal yang belakangan ini melayang-layang begitu saja di dalam kepala saya.
1. Saya kangen pada orang-orang dan masa-masa tertentu.
2. Setiap pagi saya tertekan karena mesti berangkat pagi, bukan masalah bangun pagi, tapi karena harus bersesak ria di tengah kemacetan Jakarta, begitu juga tiap petang.
3. Saya mulai merasa bosan dengan rutinitas saya 2 bulan belakangan ini. Saya mencoba mengakalinya dengan tidak melalui jalan yang sama antara berangkat dan pulang kerja. Selain itu kemarin saya menghapus hampir semua lagu yang ada di handphone saya dan menggantinya dengan lagu-lagu yang jarang sekali saya dengar.
4. Kenapa orang memilih untuk hidup di ibukota? Meskipun perputaran ekonomi memang kuat di sini, bukankah kondisi sosial dan lingkungan ibukota malah menurunkan kualitas hidup? Atau sebegitu-parah-nya-kah kesenjangan ibu kota dan daerah lainnya?
5. Saya saat ini lagi ngidam pulang kampung! Mau liat gunung! Kadang-kadang saya juga berharap semoga penempatan nanti di Sukoharjo. (jangan tanya kenapa Sukoharjo. saya sendiri bingung, kampung saya saja itu bukan)
6. Saya mulai menyadari tidur terlampau larut adalah kebiasaan buruk.
7. Barang-barang yang mau saya beli sesegera mungkin: Sirah Nabawiyah, sepeda gunung hardtail, Bajaj Pulsar warna marun! (haha)
8. Saya belum puas dengan judul blog saya dan tagline-nya. (ada ide? pokoknya tagline mesti ada rima-nya)
9. Saya tidak bisa mengelola keuangan saya sendiri dengan baik dan benar.
10. Setelah lama berpikir, sepertinya saya tidak siap untuk nikah muda.
11. Mengetahui suatu peristiwa lebih baik melalui twitter, karena dari sana kita bebas untuk membaca bermacam-macam perspektif. Memang butuh lebih banyak untuk bersikap skeptis, tapi lebih baik daripada melihat berita dari stasiun televisi yang sudah tidak bisa lagi diharapkan objektif.
12. Barusan iseng melirik profil facebook seseorang. Saya menemukan seseorang yang jauh berbeda dari masa-masa sebelum ini.
13. Minggu lalu ibu mengeluh tagihan listrik terlalu mahal. Artinya saya harus menghemat listrik.
14. Saya sangat berharap bisa menjadi hafidz.
15. Sebenarnya saya malu menulis acak tentang diri saya seperti ini.
16. Saya iba dengan teman-teman saya yang terkontaminasi pemikiran Islam liberal. Padahal Rasulullah tidak pernah merisalahkan liberalisme.
17. Kebotakan dini melanda rambut kepala saya.
18. Meskipun masih banyak yang berenang-renang di dalam kepala saya, saya bingung mau menuliskan apa. Jadi saya selesaikan saja setelah poin ini.
19. Saya mau menulis lebih baik lagi.
1. Saya kangen pada orang-orang dan masa-masa tertentu.
2. Setiap pagi saya tertekan karena mesti berangkat pagi, bukan masalah bangun pagi, tapi karena harus bersesak ria di tengah kemacetan Jakarta, begitu juga tiap petang.
3. Saya mulai merasa bosan dengan rutinitas saya 2 bulan belakangan ini. Saya mencoba mengakalinya dengan tidak melalui jalan yang sama antara berangkat dan pulang kerja. Selain itu kemarin saya menghapus hampir semua lagu yang ada di handphone saya dan menggantinya dengan lagu-lagu yang jarang sekali saya dengar.
4. Kenapa orang memilih untuk hidup di ibukota? Meskipun perputaran ekonomi memang kuat di sini, bukankah kondisi sosial dan lingkungan ibukota malah menurunkan kualitas hidup? Atau sebegitu-parah-nya-kah kesenjangan ibu kota dan daerah lainnya?
5. Saya saat ini lagi ngidam pulang kampung! Mau liat gunung! Kadang-kadang saya juga berharap semoga penempatan nanti di Sukoharjo. (jangan tanya kenapa Sukoharjo. saya sendiri bingung, kampung saya saja itu bukan)
6. Saya mulai menyadari tidur terlampau larut adalah kebiasaan buruk.
7. Barang-barang yang mau saya beli sesegera mungkin: Sirah Nabawiyah, sepeda gunung hardtail, Bajaj Pulsar warna marun! (haha)
8. Saya belum puas dengan judul blog saya dan tagline-nya. (ada ide? pokoknya tagline mesti ada rima-nya)
9. Saya tidak bisa mengelola keuangan saya sendiri dengan baik dan benar.
10. Setelah lama berpikir, sepertinya saya tidak siap untuk nikah muda.
11. Mengetahui suatu peristiwa lebih baik melalui twitter, karena dari sana kita bebas untuk membaca bermacam-macam perspektif. Memang butuh lebih banyak untuk bersikap skeptis, tapi lebih baik daripada melihat berita dari stasiun televisi yang sudah tidak bisa lagi diharapkan objektif.
12. Barusan iseng melirik profil facebook seseorang. Saya menemukan seseorang yang jauh berbeda dari masa-masa sebelum ini.
13. Minggu lalu ibu mengeluh tagihan listrik terlalu mahal. Artinya saya harus menghemat listrik.
14. Saya sangat berharap bisa menjadi hafidz.
15. Sebenarnya saya malu menulis acak tentang diri saya seperti ini.
16. Saya iba dengan teman-teman saya yang terkontaminasi pemikiran Islam liberal. Padahal Rasulullah tidak pernah merisalahkan liberalisme.
17. Kebotakan dini melanda rambut kepala saya.
18. Meskipun masih banyak yang berenang-renang di dalam kepala saya, saya bingung mau menuliskan apa. Jadi saya selesaikan saja setelah poin ini.
19. Saya mau menulis lebih baik lagi.
Calon-yang-Bakal-Didengerin-Saban-Petang
MONSTER KARAOKE
menjelang enam
selepas lima petang
sepanjang rute pulang
dan sisa energi
menjelang enam
mesin dan angin
jadi suara latar
gerak pemandangan ikut melengkapi
menjelang enam
aku pulang
teman bermain diperankan oleh perangkat digital
playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
oowh.. no..nooo, oowh.. no..nooo
soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
monster karaoke, monster karaoke
soraki laju lagu tangisi melodi (4x)
monster karaoke (4x)
menjelang enam aku pulang menjelang enam
menjelang enam aku pulang menjelang enam
aku pulang..
nb: terima kasih untuk bima atas rekomendasinya
klik di sini untuk liat blognya. lagunya cari sendiri. hehe.
menjelang enam
selepas lima petang
sepanjang rute pulang
dan sisa energi
menjelang enam
mesin dan angin
jadi suara latar
gerak pemandangan ikut melengkapi
menjelang enam
aku pulang
teman bermain diperankan oleh perangkat digital
playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
oowh.. no..nooo, oowh.. no..nooo
soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
monster karaoke, monster karaoke
soraki laju lagu tangisi melodi (4x)
monster karaoke (4x)
menjelang enam aku pulang menjelang enam
menjelang enam aku pulang menjelang enam
aku pulang..
nb: terima kasih untuk bima atas rekomendasinya
klik di sini untuk liat blognya. lagunya cari sendiri. hehe.
Wednesday, January 19, 2011
Begitu Saja
Gayus mengaku dipaksa untuk menyudutkan Ical. News ticker itu kemudian disusul oleh berita-berita yang 'sejenis' pada Apa Kabar Indonesia Malam, TV One.
Jika melihat topik yang berkembang belakangan ini --meskipun alih-alih sekadar 'topik' saya melihatnya sebagai black campaign-- orang-orang kemungkinan akan kembali mencibir TV One, dan menanggap berita itu sebagai alat stasiun televisi tersebut untuk melindungi, atau setidaknya sedikit membersihkan nama, pemiliknya. Wajar saja, sebab belakangan ini memang berita tentang Gayus, di media selain stasiun tersebut, yang saya lihat diarahkan, langsung maupun tidak langsung, kepada sosok pemilik stasiun televisi merah tersebut.
Saya tidak hendak membahas kasus Gayus yang lagi ramai, karena memang saya tidak biasa membahas hal-hal yang populer. Saya lebih tertarik melihat berita-berita tersebut seakan-akan adalah sebuah kendaraan, bisa diarahkan kemana saja tergantung siapa yang mengendalikan.
Siapa bilang kalau Metro TV --saya melihat kedua stasiun berita ini memang telah membentuk rivalitas tersendiri-- bebas dari kepentingan politik? Siapa yang sangka bagaimana berita-berita tersebut saat ini kalau pada pemilihan ketum Golkar kemarin Surya Paloh dan Ical malah membentuk kolaisi dan menang? Tapi, kan, kenyataannya mereka berhadapan dengan hasil Ical yang menang, dan si pemilik Metro TV itu 'menyingkir' dari partai beringin dengan membentuk sebuah gerakan yang iklannya terus-terusan ditayangkan di stasiun televisinya itu.
Saya pernah datang ke salah satu acara talkshow mengenai jurnalistik. Salah seorang narasumber mengatakan bahwa naif jika suatu berita ditulis secara berimbang. Pasti ada tendensi dari jurnalis si penulis berita tersebut untuk mengarahkan sesuai dengan kepentingannya (atau juga kepentingan yang menggajinya -red). Pernyataan tersebut ternyata diamini oleh semua narasumber lainnya yang juga merupakan praktisi jurnalistik.
Mengutip kata-kata dari tweet salah satu aktivis anti-JIL, saya cuma mau bilang: jangan culun. Jangan lantas kalau sesuatu terlihat bonafid, dan lawannya pernah salah, dianggap yang bonafid itu selalu benar dan yang salah akan terus-menerus salah. Karena kalau begitu artinya kita telah termakan propaganda tersembunyi.
Jika melihat topik yang berkembang belakangan ini --meskipun alih-alih sekadar 'topik' saya melihatnya sebagai black campaign-- orang-orang kemungkinan akan kembali mencibir TV One, dan menanggap berita itu sebagai alat stasiun televisi tersebut untuk melindungi, atau setidaknya sedikit membersihkan nama, pemiliknya. Wajar saja, sebab belakangan ini memang berita tentang Gayus, di media selain stasiun tersebut, yang saya lihat diarahkan, langsung maupun tidak langsung, kepada sosok pemilik stasiun televisi merah tersebut.
Saya tidak hendak membahas kasus Gayus yang lagi ramai, karena memang saya tidak biasa membahas hal-hal yang populer. Saya lebih tertarik melihat berita-berita tersebut seakan-akan adalah sebuah kendaraan, bisa diarahkan kemana saja tergantung siapa yang mengendalikan.
Siapa bilang kalau Metro TV --saya melihat kedua stasiun berita ini memang telah membentuk rivalitas tersendiri-- bebas dari kepentingan politik? Siapa yang sangka bagaimana berita-berita tersebut saat ini kalau pada pemilihan ketum Golkar kemarin Surya Paloh dan Ical malah membentuk kolaisi dan menang? Tapi, kan, kenyataannya mereka berhadapan dengan hasil Ical yang menang, dan si pemilik Metro TV itu 'menyingkir' dari partai beringin dengan membentuk sebuah gerakan yang iklannya terus-terusan ditayangkan di stasiun televisinya itu.
Saya pernah datang ke salah satu acara talkshow mengenai jurnalistik. Salah seorang narasumber mengatakan bahwa naif jika suatu berita ditulis secara berimbang. Pasti ada tendensi dari jurnalis si penulis berita tersebut untuk mengarahkan sesuai dengan kepentingannya (atau juga kepentingan yang menggajinya -red). Pernyataan tersebut ternyata diamini oleh semua narasumber lainnya yang juga merupakan praktisi jurnalistik.
Mengutip kata-kata dari tweet salah satu aktivis anti-JIL, saya cuma mau bilang: jangan culun. Jangan lantas kalau sesuatu terlihat bonafid, dan lawannya pernah salah, dianggap yang bonafid itu selalu benar dan yang salah akan terus-menerus salah. Karena kalau begitu artinya kita telah termakan propaganda tersembunyi.
Tuesday, January 11, 2011
Hidup, Ya, Hidup. Bukan Sepeda Motor
Standar ganda tidak membuat Anda lebih stabil, terlihat berdiri dengan kokoh pun tidak.
Subscribe to:
Posts (Atom)










