Saturday, February 9, 2013

Biarkan Semua Wajar Adanya

bentangan jarak, melintas khayal, menggairahkan arti hidupku
walau hatiku - hatimu takkan bertemu
betapa mungkin dekat dirimu, atau kukenali



Lain Dunia, Padi

Thursday, October 4, 2012

Percakapan Tengah Malam dengan Laki-Laki yang (Katanya) akan Menikah

Saya: sejak kapan kepikiran untuk kawin?
          *wawancara

Teman kuliah yang saya ragukan kesehatan jiwanya, dan demi kebaikannya, maka kita sebut saja Yayan: sejak mendengar lagu "Aku Separuh..." dari band lama bernama baru yg kepikiran namanya dari pelajaran kimia SMA (garam [baca: NaOH]), aku tersentak, dan merasa tulang rusukku lowong, dan perlu ditambal dengan sesosok istri solehah, yang tidak lain adalah perhiasan dunia yang paling indah

Saturday, February 18, 2012

Sesuatu Lain yang Juga Tertunda: Desember pada Februari

sampai kapan kita menjebakkan diri pada belenggu simbolisasi, peringatan-peringatan tahunan, turun ke jalan-jalan, teriak-teriak mengkritisasi, mengkritik demi nasi;
dan sampai kapan kita menjadi pelupa pada cerita-cerita, derita-derita, manusia-manusia, yang tidak terlihat mata tanpa mesti berpura-pura buta;
kemudian sampai kapan kita saling memalingkan muka, menundukkan kepala sambil menyulam luka?

Friday, February 17, 2012

Rindu itu Sembilu, Biru

Jika saja kamu di sini, Biru, pasti akan saya ajak kamu jalan-jalan ke Dompu tiap akhir minggu. Atau pergi ke Monta untuk itu guru TK kelahiran sembilan dua. Atau keliling kota demi mencari lokasi Bank Pundi. Haha.

Tapi benar, Biru: rindu itu sembilu.

Saturday, December 24, 2011

Adios, Biru :'(

Saya pikir hampir semua orang akan sepakat jika saya bilang hal yang paling tidak menyenangkan dari sebuah kebersamaan yang menyenangkan adalah kepastian adanya perpisahan. Sebenarnya ada bagian yang menjadikan hal yang tidak menyenangkan tersebut lebih tidak menyenangkan lagi: berpisah tanpa ucapan selamat tinggal.

semoga saya tidak perlu merindukan masa itu
Ah, saya pun tidak mampu bercerita tujuh tahu kebersamaan kami di sini saat ini. Yang bisa saya lakukan adalah berharap keberadaannya kembali berarti lagi. Itu yang harus dia tahu dan paham mengapa saya mesti melepasnya. Bukan berarti dia yang mulai membosankan, atau saya tak tahan lagi dengan kebosanan. Bukan.


Saturday, October 8, 2011

Halo, Blog!

sama kaya orang-orang yang nggak ditemui beberapa tahun belakangan ini, lama ngga nulis blog ternyata juga bisa bikin kangen. setidaknya beberapa blogger yang saya kunjungi blognya, seperti pidi baiq, juga jenny (yang sekarang jadi festivalist),  juga oshin, pernah merasa demikian. saya kangen kamu, blog. hehe.

kalo ngomongin kangen, berarti nggak lepas dari masa lalu. kalo ngomongin masa lalu, saya jadi inget masa-masa saya esde dulu. dulu jarak dari rumah ke sekolah saya itu sekitar satu kilo. satu kilo itu kira-kira sama kaya dari sekolah ke rumah saya. satu kilo itu biasanya saya tempuh dengan sepeda. kalo pas kelas satu saya dianter jemput sama lik (panggilan untuk adik orang tua /jawa/) saya, dari kelas dua sampai kelas lima saya bawa sepeda sendiri. biasanya saya berangkat sama temen saya depan rumah, piki namanya. saya dan piki itu temen akrab. pernah pas pulang ban sepedanya bocor, dia tuntunlah sepedanya, ya, saya juga ikutan nuntun. pernah juga kunci gembok buat rantai yang ngiket sepeda kita itu hilang oleh saya. alhasil saya sama piki pulang dulu, manggil bapaknya piki, terus balik lagi ke sekolah sambil bawa tang buat mutusin itu rantai. eh, besoknya kunci gemboknya ketemu di bawah meja di kelas.

pacar pertama saya di bima
kalo ngomongin sepeda, saya jadi inget tadi pagi. minggu, eh, sabtu lalu saya akhirnya beli sepeda lagi meskipun baru beli dua bulan lalu di bima. sepeda yang di bima nggak saya bawa pulang. kayanya mahal biaya kirimnya. itung-itung beliin buat si tika juga, berhubung sepeda yang di rumah udah nggak layak digowes lagi. terakhir saya pake sepeda lama itu bannya pecah, beberapa hari sebelumnya rantainya putus. itu kejadian lebih dari setahun lalu. jadi ceritanya tadi pagi saya sepedaan. rencana awalnya sih mau ke kemanggisan, ke pusdiklat pajak buat ngitung waktu tempuh rumah-pusdiklat. siapa tau saya mau b2d (bike to diklat). terus pulangnya mampir ke rumah moli buat minjem film sama minjemin buku. 

tapi rencana cuma sekedar rencana. berhubung temen yang bisa diajakin itu aguy, saya jadinya mengubah haluan ke ui depok. berangkat jam lima lewat, nyamperin ke rumah aguy di ciganjur yang ternyata si aguy masih tidur. berangkat sekitar jam enam, sampe di kukusan ternyata gerimis lumayan lebat, akhirnya sarapan bubur ayam dulu sekalian neduh. setelah bubur abis dan ujan reda, saya ngelanjutin gowes, sama aguy juga, ke ui. ternyata seru juga sepedaan di sana, meskipun, entah kenapa, saya agak sentimen sama kampus satu ini. 
kala senja di batas kota bima

pulangnya juga ujan, tapi yang ini aguy udah sampe rumahnya, dan saya neduh sendiri. ujan belum reda bener, saya ngelanjutin perjalanan pulang. sepedaan di gerimis itu rasanya bikin saya jadi melankolis-melankolis gimana gitu. damai, sejuk, bau tanah. pulangnya tepar dan tidur dari jam sepuluh sampe azan zuhur. capek, tapi puas. eh, sorenya si kanda ngajakin ke ui lagi. karena udah ke sana tadi pagi dan masih capek, saya tolak. eh, dia malah ngajakin ke bunderan hi malem-malem. menggoda sih, tapi mengingat sepeda saya belum ada lampunya, lain kali lebih baik sepertinya, setelah dipasangin lampu itu sepeda saya. besok rencananya sih mau ke kemanggisan, udah janjian sama fandi. mudah-mudahan nggak ujan.




eh, kok jadi ngomongin sepedaan ya? ah, gapapa juga. yang penting udah berinteraksi sama kamu, blog. apapun bentuknya.

Friday, June 10, 2011

Kotak Bekal Baru

Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up


















Life is good, yes it’s good, I’ve got food!