Karena kebetulan sekali saya tiba-tiba ingin menulis sesuatu, walaupun tidak punya gagasan yang utuh untuk membuat sebuah tulisan, saya memutuskan untuk menulis hal-hal yang belakangan ini melayang-layang begitu saja di dalam kepala saya.
1. Saya kangen pada orang-orang dan masa-masa tertentu.
2. Setiap pagi saya tertekan karena mesti berangkat pagi, bukan masalah bangun pagi, tapi karena harus bersesak ria di tengah kemacetan Jakarta, begitu juga tiap petang.
3. Saya mulai merasa bosan dengan rutinitas saya 2 bulan belakangan ini. Saya mencoba mengakalinya dengan tidak melalui jalan yang sama antara berangkat dan pulang kerja. Selain itu kemarin saya menghapus hampir semua lagu yang ada di handphone saya dan menggantinya dengan lagu-lagu yang jarang sekali saya dengar.
4. Kenapa orang memilih untuk hidup di ibukota? Meskipun perputaran ekonomi memang kuat di sini, bukankah kondisi sosial dan lingkungan ibukota malah menurunkan kualitas hidup? Atau sebegitu-parah-nya-kah kesenjangan ibu kota dan daerah lainnya?
5. Saya saat ini lagi ngidam pulang kampung! Mau liat gunung! Kadang-kadang saya juga berharap semoga penempatan nanti di Sukoharjo. (jangan tanya kenapa Sukoharjo. saya sendiri bingung, kampung saya saja itu bukan)
6. Saya mulai menyadari tidur terlampau larut adalah kebiasaan buruk.
7. Barang-barang yang mau saya beli sesegera mungkin: Sirah Nabawiyah, sepeda gunung hardtail, Bajaj Pulsar warna marun! (haha)
8. Saya belum puas dengan judul blog saya dan tagline-nya. (ada ide? pokoknya tagline mesti ada rima-nya)
9. Saya tidak bisa mengelola keuangan saya sendiri dengan baik dan benar.
10. Setelah lama berpikir, sepertinya saya tidak siap untuk nikah muda.
11. Mengetahui suatu peristiwa lebih baik melalui twitter, karena dari sana kita bebas untuk membaca bermacam-macam perspektif. Memang butuh lebih banyak untuk bersikap skeptis, tapi lebih baik daripada melihat berita dari stasiun televisi yang sudah tidak bisa lagi diharapkan objektif.
12. Barusan iseng melirik profil facebook seseorang. Saya menemukan seseorang yang jauh berbeda dari masa-masa sebelum ini.
13. Minggu lalu ibu mengeluh tagihan listrik terlalu mahal. Artinya saya harus menghemat listrik.
14. Saya sangat berharap bisa menjadi hafidz.
15. Sebenarnya saya malu menulis acak tentang diri saya seperti ini.
16. Saya iba dengan teman-teman saya yang terkontaminasi pemikiran Islam liberal. Padahal Rasulullah tidak pernah merisalahkan liberalisme.
17. Kebotakan dini melanda rambut kepala saya.
18. Meskipun masih banyak yang berenang-renang di dalam kepala saya, saya bingung mau menuliskan apa. Jadi saya selesaikan saja setelah poin ini.
19. Saya mau menulis lebih baik lagi.
Monday, February 21, 2011
Calon-yang-Bakal-Didengerin-Saban-Petang
MONSTER KARAOKE
menjelang enam
selepas lima petang
sepanjang rute pulang
dan sisa energi
menjelang enam
mesin dan angin
jadi suara latar
gerak pemandangan ikut melengkapi
menjelang enam
aku pulang
teman bermain diperankan oleh perangkat digital
playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
oowh.. no..nooo, oowh.. no..nooo
soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
monster karaoke, monster karaoke
soraki laju lagu tangisi melodi (4x)
monster karaoke (4x)
menjelang enam aku pulang menjelang enam
menjelang enam aku pulang menjelang enam
aku pulang..
nb: terima kasih untuk bima atas rekomendasinya
klik di sini untuk liat blognya. lagunya cari sendiri. hehe.
menjelang enam
selepas lima petang
sepanjang rute pulang
dan sisa energi
menjelang enam
mesin dan angin
jadi suara latar
gerak pemandangan ikut melengkapi
menjelang enam
aku pulang
teman bermain diperankan oleh perangkat digital
playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
oowh.. no..nooo, oowh.. no..nooo
soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
monster karaoke, monster karaoke
soraki laju lagu tangisi melodi (4x)
monster karaoke (4x)
menjelang enam aku pulang menjelang enam
menjelang enam aku pulang menjelang enam
aku pulang..
nb: terima kasih untuk bima atas rekomendasinya
klik di sini untuk liat blognya. lagunya cari sendiri. hehe.
Wednesday, January 19, 2011
Begitu Saja
Gayus mengaku dipaksa untuk menyudutkan Ical. News ticker itu kemudian disusul oleh berita-berita yang 'sejenis' pada Apa Kabar Indonesia Malam, TV One.
Jika melihat topik yang berkembang belakangan ini --meskipun alih-alih sekadar 'topik' saya melihatnya sebagai black campaign-- orang-orang kemungkinan akan kembali mencibir TV One, dan menanggap berita itu sebagai alat stasiun televisi tersebut untuk melindungi, atau setidaknya sedikit membersihkan nama, pemiliknya. Wajar saja, sebab belakangan ini memang berita tentang Gayus, di media selain stasiun tersebut, yang saya lihat diarahkan, langsung maupun tidak langsung, kepada sosok pemilik stasiun televisi merah tersebut.
Saya tidak hendak membahas kasus Gayus yang lagi ramai, karena memang saya tidak biasa membahas hal-hal yang populer. Saya lebih tertarik melihat berita-berita tersebut seakan-akan adalah sebuah kendaraan, bisa diarahkan kemana saja tergantung siapa yang mengendalikan.
Siapa bilang kalau Metro TV --saya melihat kedua stasiun berita ini memang telah membentuk rivalitas tersendiri-- bebas dari kepentingan politik? Siapa yang sangka bagaimana berita-berita tersebut saat ini kalau pada pemilihan ketum Golkar kemarin Surya Paloh dan Ical malah membentuk kolaisi dan menang? Tapi, kan, kenyataannya mereka berhadapan dengan hasil Ical yang menang, dan si pemilik Metro TV itu 'menyingkir' dari partai beringin dengan membentuk sebuah gerakan yang iklannya terus-terusan ditayangkan di stasiun televisinya itu.
Saya pernah datang ke salah satu acara talkshow mengenai jurnalistik. Salah seorang narasumber mengatakan bahwa naif jika suatu berita ditulis secara berimbang. Pasti ada tendensi dari jurnalis si penulis berita tersebut untuk mengarahkan sesuai dengan kepentingannya (atau juga kepentingan yang menggajinya -red). Pernyataan tersebut ternyata diamini oleh semua narasumber lainnya yang juga merupakan praktisi jurnalistik.
Mengutip kata-kata dari tweet salah satu aktivis anti-JIL, saya cuma mau bilang: jangan culun. Jangan lantas kalau sesuatu terlihat bonafid, dan lawannya pernah salah, dianggap yang bonafid itu selalu benar dan yang salah akan terus-menerus salah. Karena kalau begitu artinya kita telah termakan propaganda tersembunyi.
Jika melihat topik yang berkembang belakangan ini --meskipun alih-alih sekadar 'topik' saya melihatnya sebagai black campaign-- orang-orang kemungkinan akan kembali mencibir TV One, dan menanggap berita itu sebagai alat stasiun televisi tersebut untuk melindungi, atau setidaknya sedikit membersihkan nama, pemiliknya. Wajar saja, sebab belakangan ini memang berita tentang Gayus, di media selain stasiun tersebut, yang saya lihat diarahkan, langsung maupun tidak langsung, kepada sosok pemilik stasiun televisi merah tersebut.
Saya tidak hendak membahas kasus Gayus yang lagi ramai, karena memang saya tidak biasa membahas hal-hal yang populer. Saya lebih tertarik melihat berita-berita tersebut seakan-akan adalah sebuah kendaraan, bisa diarahkan kemana saja tergantung siapa yang mengendalikan.
Siapa bilang kalau Metro TV --saya melihat kedua stasiun berita ini memang telah membentuk rivalitas tersendiri-- bebas dari kepentingan politik? Siapa yang sangka bagaimana berita-berita tersebut saat ini kalau pada pemilihan ketum Golkar kemarin Surya Paloh dan Ical malah membentuk kolaisi dan menang? Tapi, kan, kenyataannya mereka berhadapan dengan hasil Ical yang menang, dan si pemilik Metro TV itu 'menyingkir' dari partai beringin dengan membentuk sebuah gerakan yang iklannya terus-terusan ditayangkan di stasiun televisinya itu.
Saya pernah datang ke salah satu acara talkshow mengenai jurnalistik. Salah seorang narasumber mengatakan bahwa naif jika suatu berita ditulis secara berimbang. Pasti ada tendensi dari jurnalis si penulis berita tersebut untuk mengarahkan sesuai dengan kepentingannya (atau juga kepentingan yang menggajinya -red). Pernyataan tersebut ternyata diamini oleh semua narasumber lainnya yang juga merupakan praktisi jurnalistik.
Mengutip kata-kata dari tweet salah satu aktivis anti-JIL, saya cuma mau bilang: jangan culun. Jangan lantas kalau sesuatu terlihat bonafid, dan lawannya pernah salah, dianggap yang bonafid itu selalu benar dan yang salah akan terus-menerus salah. Karena kalau begitu artinya kita telah termakan propaganda tersembunyi.
Tuesday, January 11, 2011
Hidup, Ya, Hidup. Bukan Sepeda Motor
Standar ganda tidak membuat Anda lebih stabil, terlihat berdiri dengan kokoh pun tidak.
Thursday, November 11, 2010
CPS (Copy-Paste-Share)
Ceritanya saya lagi browsing cari materi tentang silaturahmi buat bahan diskusi sama anak-anak SMA Jumat besok. Eh, malah sampai ke halaman ini. Lumayan buat di-share. Hitung-hitung mulai posting blog lagi. Tafadhol disimak :D
***
Persahabatan
Dalam bukunya Pak Hamka menulis: "Pilihlah seorang yang takutkan Allah untuk menjadi sahabatmu. Dan kata kata hikmatnya tentang persahabatan:
1. Persahabatan adalah satu satunya pintu kebebasan kita. Banyak perkara yang tak dapat kita nyatakan kepada isteri sekali pun, tetapi dapat dinyatakan kepada sahabat.Persahabatan yang jujur adalah salah satu tangga kenaikan.
2. Supaya beroleh sahabat, hendaklah diri sendiri layak buat disahabati orang.
3. Sahabatmu suka padamu, tetapi tidaklah tiap-tiap orang yang suka kepadamu itu adalah sahabatmu.
4. Kesenangan hidupmu adalah memperbanyak teman, tetapi bukti persahabatan yang setia ialah di waktu kesukaran.
5. Yang semulia-mulia kewajipan bersahabat ialah mengetahui kehendak dan kemahuan sahabatmu sebelum dikatakan. Dan perkenankan permintaannya sebelum dimintanya.
6. Kalau mempunyai banyak sahabat, janganlah jadi sahabat untuk seorang sahaja.
7. Kalau sahabatmu tertawa, hendaklah dikatakan apa sebab dia senang, kalau sahabatmu menangis, engkau mesti periksa apa sebab dia susah.
8. Jika engkau memberi sesuatu pada sahabatmu, bererti memberikan kepada dirimu sendiri.
9. Pengubat jerih manusia adalah dua: pertama: Iman kepada Allah, kedua: Percaya kepada sahabat.
10. Bila orang telah merasa dirinya besar, dia lupa akan salahnya, hanya sahabat yang setia yang sanggup membuka matanya.
11. Kalau sahabatmu telah banyak menyelidiki keadaan engkau, bukanlah buat diampuninya.
12. Teman yang 'berudang disebalik batu' adalah seumpama anjing ditepi jalan, yang ditujunya hanya tulang yang akan dilemparkan kepadanya, bukan tangan yang melemparkan tulang itu.
13. Cemburu perempuan kepada perempuan, memutuskan tali persahabatan.
14. Bila seorang perempuan telah sudi menghulurkan tangan persahabatan, alamat umurmu telah lepas dari zaman bercinta. "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah engkau beri petunjuk kepada kami." (Ali Imran : 250)
***
Tadinya mau saya sesuaikan dengan EYD, tapi buat saya bahasa melayu lebih cantik daripada EYD.
***
Persahabatan
Dalam bukunya Pak Hamka menulis: "Pilihlah seorang yang takutkan Allah untuk menjadi sahabatmu. Dan kata kata hikmatnya tentang persahabatan:
1. Persahabatan adalah satu satunya pintu kebebasan kita. Banyak perkara yang tak dapat kita nyatakan kepada isteri sekali pun, tetapi dapat dinyatakan kepada sahabat.Persahabatan yang jujur adalah salah satu tangga kenaikan.
2. Supaya beroleh sahabat, hendaklah diri sendiri layak buat disahabati orang.
3. Sahabatmu suka padamu, tetapi tidaklah tiap-tiap orang yang suka kepadamu itu adalah sahabatmu.
4. Kesenangan hidupmu adalah memperbanyak teman, tetapi bukti persahabatan yang setia ialah di waktu kesukaran.
5. Yang semulia-mulia kewajipan bersahabat ialah mengetahui kehendak dan kemahuan sahabatmu sebelum dikatakan. Dan perkenankan permintaannya sebelum dimintanya.
6. Kalau mempunyai banyak sahabat, janganlah jadi sahabat untuk seorang sahaja.
7. Kalau sahabatmu tertawa, hendaklah dikatakan apa sebab dia senang, kalau sahabatmu menangis, engkau mesti periksa apa sebab dia susah.
8. Jika engkau memberi sesuatu pada sahabatmu, bererti memberikan kepada dirimu sendiri.
9. Pengubat jerih manusia adalah dua: pertama: Iman kepada Allah, kedua: Percaya kepada sahabat.
10. Bila orang telah merasa dirinya besar, dia lupa akan salahnya, hanya sahabat yang setia yang sanggup membuka matanya.
11. Kalau sahabatmu telah banyak menyelidiki keadaan engkau, bukanlah buat diampuninya.
12. Teman yang 'berudang disebalik batu' adalah seumpama anjing ditepi jalan, yang ditujunya hanya tulang yang akan dilemparkan kepadanya, bukan tangan yang melemparkan tulang itu.
13. Cemburu perempuan kepada perempuan, memutuskan tali persahabatan.
14. Bila seorang perempuan telah sudi menghulurkan tangan persahabatan, alamat umurmu telah lepas dari zaman bercinta. "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah engkau beri petunjuk kepada kami." (Ali Imran : 250)
***
Tadinya mau saya sesuaikan dengan EYD, tapi buat saya bahasa melayu lebih cantik daripada EYD.
Friday, October 8, 2010
3Q
Akhirnya bisa juga buat video. Masih jauh dari bagus, sih. Tapi pengalaman dan ilmunya tidak tergantikan, lah. Apalagi perasaan bangga ditonton banyak orang dan diberi tepuk tangan pula.
Tuesday, October 5, 2010
No Comment, Please!
Saya sering merasa risih dengan orang-orang yang hobinya protes. Kalau ada sesuatu yang tidak sejalan dengan pikirannya langsung berkomentar. Ada kesalahan sedikit langsung mencaci. Saya jadi menduga-duga apa jangan-jangan orang-orang sepeti itu adalah orang yang selalu benar? Meskipun orang-orang seperti itu jika dituduh "selalu benar" mungkin --saya belum pernah menanyakan langsung-- menyanggahnya.
Saya suka membaca tulisan-tulisan dan pendapat orang-orang yang kritis. Saya pun selalu berusaha menjadi orang yang skeptis. Tapi apa gunanya menjadi kritis kalau ujung-ujungnya digunakan untuk menjatuhkan orang lain? Saya pikir bukan itu tujuan dari sikap kritis.
Sayangnya, saat ini saya semakin sering menemukan orang-orang seperti ini. Orang-orang (dalam pandangan saya) yang merasa akan semakin pintar jika makin banyak berkomentar, bukan belajar. Padahal buat saya berkomentar itu menuntut untuk belajar. Dengan belajar kita semakin pintar, nah, barulah berkomentar. Tapi saat ini makin banyak orang yang lebih suka menunjukkan dirinya lebih tahu, padahal dia sendiri belum tahu apa yang dia ketahui itu benar-benar pengetahuan yang benar. Yang diketahuinya langsung diterima begitu saja, tanpa memastikan kebenarannya, dan parahnya lagi langsung menyebarkannya kepada orang-orang (dan ini lebih parah lagi) yang juga percaya begitu saja.
Saya suka membaca tulisan-tulisan dan pendapat orang-orang yang kritis. Saya pun selalu berusaha menjadi orang yang skeptis. Tapi apa gunanya menjadi kritis kalau ujung-ujungnya digunakan untuk menjatuhkan orang lain? Saya pikir bukan itu tujuan dari sikap kritis.
Sayangnya, saat ini saya semakin sering menemukan orang-orang seperti ini. Orang-orang (dalam pandangan saya) yang merasa akan semakin pintar jika makin banyak berkomentar, bukan belajar. Padahal buat saya berkomentar itu menuntut untuk belajar. Dengan belajar kita semakin pintar, nah, barulah berkomentar. Tapi saat ini makin banyak orang yang lebih suka menunjukkan dirinya lebih tahu, padahal dia sendiri belum tahu apa yang dia ketahui itu benar-benar pengetahuan yang benar. Yang diketahuinya langsung diterima begitu saja, tanpa memastikan kebenarannya, dan parahnya lagi langsung menyebarkannya kepada orang-orang (dan ini lebih parah lagi) yang juga percaya begitu saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)