Friday, April 23, 2010

Adalah Sebuah Satire Berbentuk Film

Adalah menertawakan diri sendiri, yang coba ditawarkan dalam film ini. Film yang rilis pada 15 April lalu begitu sarat dengan sindiran yang dibalut guyonan khas Dedi Mizwar dalam film-filmnya, sesuai dengan genre film yang ditulis di resensi 21cineplex.com: comedy satire. Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mencoba mengangkat kebiasaan buruk yang sering dilakukan masyarakat kita seperti suap dan nepotisme sekaligus menyentil pemerintah (film ini ditutup dengan sebuah tulisan besar pasal 34 UUD 1945).

Adalah Muluk (Reza Rahadian), seorang sarjana manajemen, yang menjadi tokoh sentral dalam film ini. Hampir-hampir berternak cacing karena selalu ditolak lamaran pekerjaannya, ia akhirnya menggunakan ilmunya sebagai pengembang sumber daya manusia, khususnya pencopet. Dengan mengajak temannya, Samsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan yang kerjaannya hanya main gaplek karena tidak punya koneksi dan uang untuk mendapat pekerjaan, dan Pipit (Ratu Tika Bravani), sarjana muda pengagguran yang keranjingan kuis di televisi, Muluk mencoba memberikan pendidikan kepada para pencopet muda itu dengan tujuan mereka tidak lagi mencopet dan mendapatkan penghidupan yang layak. Sayangnya, mereka dihadapkan dilema: pendapatan yang mereka peroleh dari mendidik pencopet-pencopet itu hasil copetan, bukanlah uang yang didapatkan dari kerja yang halal, padahal mereka butuh penghasilan. Hal ini yang menjadikan bapak-bapak mereka, Pak Makbul (Dedi Mizwar) dan Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), begitu kecewa.

Adalah momen tersebut, ketika kedua bapak itu menangis mendapati anaknya memperoleh rezeki yang tidak halal, scene yang membuat dada bergemuruh. Momen menyentuh lainnya yaitu ketika pencopet-pencopet itu mengumandangkan Indonesia Raya, plus ‘Amin’ setelah “Hiduplah Indonesia Raya”. Konflik yang disuguhkan dalam film relatif sama seperti film-film Dedi Mizwar sebelumnya dalam segi bobot, yakni bukan konflik berlebihan dan cenderung dibuat ringan, namun penuh dengan siratan pesan.

Adalah sebuah perdebatan tentang pendidikan: penting atau tidak penting, yang menjadi isu utama film yang disutradarai Dedi Mizwar ini. Film ini sendiri menyodorkan beberapa pesan yang dapat digunakan penontonnya menarik kesimpulan sendiri:
  1. Seorang pencopet butuh pendidikan agar dapat membaca sehingga tidak bersembunyi ke kantor polisi jika dikejar massa
  2. Seorang politikus perlu pendidikan supaya dapat mengoptimalkan notebook seharga lima belas juta rupiahnya dengan tidak hanya menjadikan notebook itu akuarium.
  3. Seorang pencopet yang berpendidikan tidak dikatakan pencopet, tetapi koruptor, yang tentunya hasilnya lebih banyak dan lebih aman.
  4. Seperti kata Muluk kepada Samsul, “kalo lo nggak berpendidikan, lo nggak bakal tau kalo pendidikan itu nggak penting. Makanya pendidikan itu penting.”

Adalah tujuh puluh persen dari pencopet-pencopet tersebut merupakan anak jalanan sungguhan. Mereka dilatih selama dua bulan dan ternyata hasilnya memuaskan. “Hal ini menandakan bahwa mereka hanya butuh kesempatan,” kata Dedi Mizwar di Apa Kabar Indonesia, pagi 15 April lalu.

Adalah Ribut (Sakurta Ginting) alasan saya menulis resensi dengan cara sedemikian berantakan ini.

Thursday, April 22, 2010

Rp665.000,00

M. Soleh, itu yang terbaca di bordiran hitam bagian dada kanan seragam cokelat susunya oleh saya dari depan kaca bening loket meja pelayanan pajak mobil. Kemudian dia bertanya, “Kok dateng jam segini? Mestinya siang tadi. Kerja dulu, ya?” “Kuliah, Pak,” jawab saya. “Oo, dimana?” tanyanya lagi. “STAN, Pak. Bintaro,” jawab saya lagi dengan sedikit menyesal dalam hati kenapa tidak bilang ‘ya’ saja. “Wah, bakalan jadi pegawai pajak, dong,” sahut beliau. “Saya bukan pajak, Pak,” balas saya pelan –mungkin ia tidak mendengarnya--. Saya kira ia akan menyebut Gayus.

Samsat Cinere, sekitar pukul setengah tiga, begitu sepi. Tinggal saya yang sedang mengurus balik nama BPKB dan perpanjangan STNK Si Biru (motor saya), beberapa pegawai Dispenda dan Polantas (termasuk Pak Soleh) yang memang berkantor di sana, dan siswi-siswi SMK yang (mungkin) sedang magang. “Ini sekitar enam ratus lima puluhan, lah,” kata polisi di samping Pak Soleh setelah memeriksa STNK yang saya berikan. “Itu udah semua, Pak? Sama pajaknya?” tanya saya. “Iya, sama ongkos kurirnya juga,” jawabnya. “Yaudah deh, Pak. Di sini aja,” kata saya. Daripada jauh-jauh ke Samsat Depok II, lebih mudah bagi saya menyepakati tawaran jasa ‘kurir’ dari bapak-bapak ini. Kemudian rekan Pak Soleh ini memanggil seseorang yang kebetulan lewat di depannya, “Cek fisik, nih,” katanya seraya menunjuk saya dan menyodorkan selembar lima puluh ribuan kepada orang yang dipanggil itu dengan tergesa berkata, “bilang aja Pak Soleh.”
Selesai cek fisik, saya diminta memfotokopi beberapa berkas. Tempat fotokopinya ada di lantai bawah Samsat, ‘fasilitas’ yang memadai dan cukup membantu buat saya karena si tukang fotokopi sudah tahu apa yang dilakukan dengan hanya saya menyerahkan berkas-berkas itu. Di tempat fotokopi saya berpapasan dengan seorang bapak berumur sekitar lima puluhan. Bapak itu didatangi seorang yang berseragam sama dengan pemeriksa cek fisik motor saya yang menyerahkan beberapa lembar surat dan menerima selembar dua puluh ribuan dari si bapak. Setelah orang berseragam itu pergi, bapak itu bertanya kepada tukang fotokopi, “segitu cukup kan?” “Cukup, Pak,” jawab si tukang fotokopi yakin. Jawaban itu mendorong saya ikutan bertanya setelah bapak lima puluh tahunan itu pergi, “Pak, kalo balik nama begini emang ‘mestinya’ kena berapa?” “Ya, paling nggak jauh, dek. Sekitar segitu juga. Ngurusnya ribet. Yang ini buat Pemda, yang ini buat Polisi, buat arsip, terus yang ini buat jalan adek. Udah gitu ngurus cap-nya mesti ke Jakarta soalnya platnya B. Mesti ke Polda,” terangnya sambil menunjukkan berkas-berkas yang sudah dibuat rangkap empat. “Delapan ribu aja, dek,” lanjutnya yang menandakan transaksi kami hampir selesai.

Ada dua kutub dalam masalah birokrasi: yang pertama adalah pembuat kebijakan yang berpegang pada prinsip kalau bisa dibuat susah, kenapa jadi mudah?; dan di kutub sebaliknya adalah masyarakat sebagai ‘korban’ birokrasi dengan karakter khas Indonesia mau gampangnya saja. Inilah sebuah kondisi yang sangat baik bagi para pelaksana birokrasi, termasuk Polisi dan PNS, sebagai pihak yang dapat ‘menjembatani’ keduanya dengan segala kesempatan yang tercipta.

“Udah semester berapa, dek?” tanya Pak Soleh seraya mengurus berkas-berkas yang saya berikan setelah dari tempat fotokopi. “Enam, Pak. Terakhir,” jawab saya. “Wah, udah mau lulus dong. Asal jangan kaya Gayus aja. Cari uang yang aman-aman aja,” katanya lagi. “Insya Alloh, Pak,” balas saya sambil mengambil sebuah kesimpulan dalam pikiran bahwa untuk saat ini bicara tentang kampus saya tanpa menyebut Gayus seperti sayur tanpa garam.
“Keponakan saya kemarin ikut ujian masuk STAN, tapi nggak lulus. Akhirnya diterima di Akademi Imigrasi. Orang-orang pada bayar sampai seratus, seratus lima puluh, untung keponakan saya IQ lumayan, jadi nggak gede-gede banget bayarnya,” cerita Pak Soleh lagi yang sedang menunggu rekannya mengurus berkas-berkas. Tadinya saya mau bilang kalau di kampus saya sepertinya tidak ada bayar-bayaran seperti itu, tapi Pak Soleh kembali bertanya, “Emang bapaknya kerja dimana?” “Depdiknas, Pak. Tapi sekarang udah nggak ada,” jawab saya sekaligus membatalkan mengatakan isi pikiran saya barusan.
“Dek, pas beli motor kalau bisa minta kuitansinya, atau kertas ditempel meterai. Itu penting buat ngurus balik nama begini. Beli apapun juga begitu kalau bisa,” nasihat Pak Soleh. “Wah, udah lama sih, Pak, belinya. Bapak saya yang beli waktu itu,” elak saya, dan sepertinya tidak diperhatikan oleh Pak Soleh.

Saya berpapasan dengan rekan Pak Soleh, yang sepertinya akan pulang ketika memasuki kembali ruang utama Samsat Cinere yang semakin sepi. Tergopoh-gopoh sambil membawa tas jinjing warna-warni, polisi itu kembali ke tempat duduknya setelah saya berikan materai nominal enam ribu yang baru saya beli seharga tujuh ribu rupiah. “Paraf saja, disini. Nggak bisa kalau saya yang paraf,” kata polisi itu kepada saya sambil menyodorkan kertas kosong yang sudah ditempel materai. “Yak, kalau begitu nanti Senin sore atau Selasa pagi saya telepon,” ucap polisi rekan Pak Soleh itu sambil mengajak saya salaman dan memberikan brosur mobil Suzuki.

Sunday, April 4, 2010

Ribuan Nyala Lilin dan Cahaya Bulan

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang ...*



bulan,

apa yang menjadi pertanda
rutinnya kedatangan padahal
kenyataan tanggal
dua puluh delapan?

sedangkan kita masih
berbantahan
tentang semunya bulan
benderang
atau kejujuran dari ribuan lilin
yang remang

lalu kau berkata
pada siang aku tiada
takut terang

pada bulan kutantang
ketakutan sekalipun
melumpuhkan

pada malam aku
tak lagi temaram
pun kelam

... cause the dimness means you’re giving up**






* Cahaya Bulan - Eros ft. Okta (ost. Gie)
** Thousand Candles Lighted - Endah and Rhesa

Thursday, April 1, 2010

This is not a Love Story


The boy, Tom Hanson of Margate, New Jersey, grew up believing that he'd never truly be happy until the day he met "the one."
This belief stemmed from early exposure to sad British pop music and a total misreading of the movie 'The Graduate'.

The girl, Summer Finn of Chennicok, Michigan, did not share this belief. Since the disintegration of her parents' marriage, she'd only loved two things:
The first was her long, dark hair.
The second was how easily she could cut it off, and feel nothing.

Tom meets Summer on January eighth.
He knows, almost immediately, she is who he's been searching for.

This is a story of boy meets girl, but you should know upfront...
This is not a love story.


***

Teks di atas adalah prolog dari film yang beberapa hari lalu saya tonton: 500 Days of Summer.
Karena tidak berada dalam kondisi yang bagus untuk bercerita, saya tidak akan membuat resensi, tapi hanya menuliskan beberapa fakta acak yang berkaitan dengan film ini:

1. Film ini saya dapat dari Wisnu Kusuma Haryadi, salah satu babi, awalnya menyarankan saya untuk tidak menonton film ini.

2. Menonton film ini membutuhkan konsentrasi dan daya ingat ekstra karena alurnya yang maju mundur. Saya beberapa kali mengulang beberapa adegan untuk melihat hari ke berapa adegan tersebut.

3. Arian Dwi Purwanto, juga salah satu babi, mengaku film ini mirip dengan apa yang dialaminya. Saya sendiri merasa tidak dengan saya, meskipun bukan "sama sekali".

4. Salah satu faktor kenapa saya menyukai film ini karena soundtracknya. Saya langsung mencari dan mendownloadnya dari indowebster, dan memang tidak mengecewakan.

6. Sweet Disposition, salah satu soundtrack film ini, dibawakan oleh The Temper Trap, band asal Melbourne, Australia, yang vokalisnya adalah orang Indonesia.

5. Ada satu kalimat yang diucapkan Summer kepada Tom yang membuat saya tercenung; "I was never sure about you."

6. Sebagian besar orang pasti salah duga di-scene awal ketika Summer dan Tom duduk berdua di bangku taman.

7. Saat iseng-iseng buka Kaskus, saya mendapatkan komik singkat film ini. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3677397





***

Musim panas telah usai, saatnya musim gugur (sayang, di Indonesia cuma ada kemarau dan penghujan).

Sunday, March 21, 2010

Salah Kaprah

Kadang, hal yang kita percaya kebenarannya dalam jangka waktu yang lama bisa patah begitu saja karena kenyataan yang baru dialami. Hari-hari belakangan ini saya menemukan beberapa fakta yang menunjukkan kepada saya bahwa saya selama ini salah kaprah dalam beberapa hal.

1. Sebelumnya saya menganggap sleep paralysis yang sering saya alami dikarenakan saya tidur di tempat yang gelap dan posisi tidur yang salah. Saya merasa demikian karena saya selalu merasa sulit untuk bangun padahal merasa sadar (gejala sleep paralysis) ketika tidur sesudah subuh di bulan puasa dengan mematikan lampu kamar dan menghadap ke tembok. Namun belakangan ini saya mengalami gejala tersebut, padahal saya tidur dengan waktu, kondisi, dan posisi yang berbeda. Setelah melakukan beberapa riset, kesimpulan yang saya dapat adalah gejala sleep paralysis akan saya sering alami jika waktu tidur saya berkurang banyak dalam tempo yang lama.

2. Selama ini saya merasa saya alergi makanan laut dan perilaku saya yang suka pilih-pilih makanan merupakan perilaku yang harus saya ubah. Ternyata, setelah makan belalang, saya tidak hanya alergi makanan laut, dan kenapa saya begitu pilih-pilih makanan adalah karena badan saya begitu responsif terhadap makanan yang saya makan --badan saya langsung gatal-gatal dalam hitungan menit setelah saya makan belalang--. Jadi saya tidak merasa perlu mengubah perilaku pilih-pilih makanan yang saya miliki.


3. Sebelumnya saya beranggapan kerokan merupakan kebiasaan buruk yang sering ibu saya lakukan. Namun kemarin berkat kerokan ibu saya pada pukul 3 dini hari, saya terselamatkan dari linu di seluruh sendi tangan kiri dan kanan.

4. Selama ini saya beranggapan bahwa kematian merupakan hal yang menakutkan. Namun, ternyata kematian adalah hal yang menyedihkan.

5. Saya merasa tidak akan dapat melepaskan diri dari bayang-bayang dan harapan tentangnya, dan saya berharap saya salah kaprah.
*****

Mungkin bagi yang sudah membaca mengapaterlaluserius.blogspot.com atau shintiya.avesena.net merasa ini sama saja dengan postingan mereka. Tapi, saya berani berkata: jangankan meniru, terinspirasi saja tidak. Hanya saja mereka bergerak lebih cepat dari saya.

Thursday, March 18, 2010

Media dan Kuasa

Four hostile newspapers are more to be feared than a thousand bayonets

Empat surat kabar musuh lebih ditakutkan daripada seribu bayonet. Ucapan Napoleon Bonaparte, seorang kaisar Perancis yang hampir menguasai seluruh daratan Eropa, membuktikan media massa memang memiliki pengaruh yang besar sejak dahulu. Pengaruh yang besar ini pun disadari oleh rezim-rezim otoriter semacam Musolini, Hitler, atau Pol Pot untuk mempropagandakan pahamnya. Demikian pula yang terjdi di negara ini, meskipun tidak secara eksplisit, keberadaan media massa di Indonesia dibatasi kebebasaannya untuk kepentingan pemerintah hingga era reformasi. Usaha pemerintah untuk menjinakkan media terlihat sejak zaman Belanda melalui RR 1856, kemudian orde lama lewat Peraturan Peperti No. 10 tahun 1960, hingga orde melalui Departemen Penerangan dengan instrumen yang terkenal sebagai SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Pembatasan ini menjadikan pengaruh yang dimiliki media secara tidak langsung diorientasikan sebagai partisan pemerintah.

Pada saat ini, ketika pers mendapat kebebasan yang dilindungi oleh hukum , pengaruh media massa menjadi semakin meningkat. Bahkan media massa lebih dipercaya dari pemerintah. Isu-isu tentang kesalahan atau kegagalan pemerintah cepat beredar di masyarakat. Sementara itu pemerintah tak dapat mengelak dari tekanan dari masyarakat, terutama media. Apa yang menyebabkan media massa memiliki pengaruh yang sedemikian kuat? Redi Panuju, dalam bukunya yang berjudul Relasi Kuasa, menyebutkan empat faktor yang menjadikan media massa begitu berpengaruh:
1.       Media menciptakan kesan (image)
2.       Media massa mampu memberikan liputan apa yang terjadi menjadi lebih nyata
3.       Media massa merepresentasikan pandangan-pandangan yang dipakai masyarakat
4.       Media diyakini sejak lama menjadi semacam kanal yang berfungsi mengalirkan emosi dan kecenderungan distruktif psikologis lainnya yang menjadi gejala internal (individu) yang wajar (normal)

Tidak dapat disangkal, di era informatika ini, urgensi akan media semakin meningkat sebab setiap orang membutuhkan informasi yang cepat dan tepat demi menjamin aktualisasi dirinya masing-masing. Dalam hal ini, adalah peranan media massa untuk menyediakan informasi bagi khalayak. Sejak era reformasi, euforia kebebasan yang didengungkan menjadikan media massa berkembang begitu pesat. Secara kuantitatif, berdasarkan data yang diperoleh dari antara.co.id,  dapat dilihat pada setahun pascareformasi jumlah media cetak melonjak menjadi 1.687 penerbitan atau bertambah enam kali lipat padahal selama 32 tahun era Orde Baru hanya berdiri 289 media cetak, enam stasiun televisi dan 740 radio. Jumlah media cetak  pada 2008 telah berkurang dan tercatat sebanyak 830, sedangkan jumlah televisi meningkat menjadi  60, radio berizin 2.000, dan 10 ribu radio gelap. Sementara itu, jumlah wartawan saat ini mencapai 40 ribu orang. Tak ayal, media massa menjadi begitu mendominasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Jenis Media
Tahun 1997
Tahun 1999
Surat kabar
79 perusahaan
299 perusahaan
Tabloid
88 perusahaan
866 perusahaan
Majalah
141 perusahaan
491 perusahaan
Buletin
8 perusahaan
11 perusahaan

Degradasi dalam Dominasi

Meskipun jumlah media massa meningkat demikian drastis, ternyata, berdasarkan hasil riset yang dilakukan di seluruh dunia, tingkat kepercayaan masyarakat atas fakta yang disampaikan oleh media massa ternyata menurun. Misalnya pada survey Trust Barometer 2009 yang  didasarkan pada wawancara dengan 4.475 orang di 20 negara, menemukan bahwa hanya 28 persen dari Inggris percaya publik media pada umumnya. H.  Ansyari Thayib, mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, dalam ceramahnya di tahun 2001 menyatakan pernah meniliti bahwa lebih dari lima puluh persen responden yang menyatakan tidak percaya terhadap realitas faktual yang disampaikan media. Sehingga ungkapan yang mengatakan “makin cerdas wartawan, makin cerdas masyarakatnya; makin bodoh wartawan, makin bodoh pula masyarakatnya” berganti bunyi menjadi “makin cerdas wartawan, makin cerdas masyarakatnya; makin bodoh wartawan, makin tidak percaya masyarakatnya”. Sementara itu, dari 200 lembar kuisioner yang telah disebarkan, 62% responden yang berasal dari mahasiswa STAN menyatakan percaya tehadap media massa secara umum. Selain itu, lebih dari setengah responden menyatakan cukup terpengaruh terhadap pemberitaan media massa meskipun  46% menyatakan media massa kurang independen.
Konsep media sebagai pilar demokrasi keempat, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif, kini juga makin kurang populer.

Faktor utama yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media yang paling utama yakni media massa saat ini cenderung berkembang ke arah bisnis daripada pengabdian kepada masyarakat yang seharusnya menjadi idealisme seorang wartawan. Berdasarkan kategori iklan dan kualitas media, Dewan Pers mencatat hanya sekitar 30 persen dari 1008 media massa yang sehat secara bisnis. Akibatnya, demi keberlangsungan usahanya secara ekonomi, media massa kini cenderung dikuasai oleh pemilik modal, termasuk para politikus, yang menggunakan media demi keuntungan komersial maupun menunjang kekuatan politik daripada memeberikan pencerdasan dan pencerahan kepada masyarakat.

Dari fakta yang ada, bullet theory, yang menyatakan media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan oleh massa, memang sudah tidak relevan lagi mengingat kepercayaan masyarakat terhadap media yang makin menipis. Tetapi dalam teori komunikasi massa juga dikenal teori agenda setting. Media memang tidak dapat mempengaruhi secara langsung masyarakat, tapi dapat mempengaruhi masyarakat mengenai isu mana yang patut dibahas. Apa yang diberitakan media saat ini selalu menjadi isu yang kerap dibahas. Meskipun tidak membentuk opini publik secara utuh, pengaruh ini mengarahkan masyarakat untuk menilai urgensi suatu isu untuk diselesaikan, sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah, juga masyarakat. Dengan pengaruh seperti ini, para penguasa media dapat saja mengalihkan isu yang merugikan dirinya jika dibahas ke isu lain yang tidak ada kaitannya. Namun tidak sepenuhnya stimulus yang diberikan media, terutama di Indonesia, berimplikasi negatif terhadap masyarakat. Misalnya saja pada kasus Bilqis, media massa memiliki andil serta dalam mengarahkan perhatian massa di tengah suasana politik negeri ini yang sedang panas untuk menunjukan simpati terhadap sesama.


Tuesday, March 16, 2010

Our Late Nite Conversation

Apa yang dilakukan ketika bertemu dengan orang yang dikagumi?
A. menjabat tangan
B. menyapa
C. berfoto bersama
D. BERBINCANG-BINCANG


Jadi, begini ceritanya.
Belum lama ini, Efek Rumah Kaca jadi pengisi acara di kampus saya. Saya, sebagai penggemarnya, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan ini. Pikir-pikir, kalau cuma melakukan tiga pilihan awal di atas, apa istimewanya? Oleh karena itulah, bermodalkan pers card saya mencoba untuk bercakap-cakap dengan kedok wawancara, meskipun memang jadinya wawancara. Inilah hasil pembicaraan tengah malam setelah mereka tampil antara saya, Paung, dan Efek Rumah Kaca.*

Arif: Apa alasan utama ERK indie? Karena tidak ada tawaran atau memang idealismenya indie?
Cholil: Sampai sekarang masih coba indie karena kita yakin aja bahwa musik yang kita mainkan itu ...
Akbar: Gak laku (tertawa). Karena emang ga ada yang mau kontrak kita. Industri tuh yang mau mengangkat lagu kita begitu kan? Mana mau lah? Mana yang cocok, kira-kira lagu-lagu yang muncul di tv sama lagu yang kita bawain cocok gak? Ya itu, karena memang belum ada yang mau. Kita sih mau-mau saja kalau industri ada yang nawarin. Jadi kalau ada yang nawarin, mau. Asal lagu-lagu yang sudah kita bikin itu dan sudah kita punya itu gak diapa-apain. Kalau diperbagus sama dia, dimatangkan lagi, ditebalkan powernya, kita mainnya lebih bagus lagi, oke. Di-take ulang boleh deh, tapi konten lagunya gak boleh diintervensi.

Arif: Alasannya apa kok tidak boleh diintervensi?
Akbar: Ya iyalah, bikin lagu gak gampang. Itu kan lagu-lagu gue.
Cholil: Kalau di mau intervensi, belum tentu yang ada dipikiran dia lebih baik buat pasar. Okelah ngomongin pasar, ya. Kalau dia major label, probabilitas band yang di major label, misalkan Sony punya 100 artis, dari 100 artis itu pasti semuanya sudah mengikuti kemauan Sony, kan? Berapa artis Sony yang meledak? Paling 10 persen, ya? Artinya 90 persen dari kemauan dia gagal. Ya, gak? Buktinya gak meledak. Jadi belum tentu yang kemauannya itu bagus. Jadi begini, statistiknya kalau pakai angka aja bisa dilihat, paling artis Sony dari sekian banyak yang ngetop: Padi, siapa, siapa, yang gede-gede banget begitu. Yang kecil-kecilnya banyak-banyak banget yang gagal, The Groove, siapa, siapa, gagal-gagal semua. Artinya intuisi mereka juga gak selalu bagus. Statistiknya mengatakan paling banyak 20 persen yang sukses. 80 persen yang gagal. Artinya belum tentu kalau kita diubah, sudah diubah, tidak sesuai dengan hati kita, tidak laku juga, buat apaan kan?

Arif: Intinya indie itu karana gak mau jadi yang 80 persen itu atau ada idealisme sendiri dari tiap lagunya?
Cholil: Karena ini memang lagu kita. Kita yang paling tahu bagaimana memainkannya. Tidak perlu intervensi orang lain. Kalau mereka mau merilis kita dengan kita mengintervensi, menurut kita oke.

Arif: Lagu-lagu ERK kan banyak yang istilahnya idealis, menantang, atau bahasa lainnya subversif. Apa sih tujuannya? Kenapa tidak ikut pasar aja? Karena selera atau ada maksud tertentu?
Cholil: Subversif ya? Kita tidak tertarik untuk buat lagu yang itu-itu saja. Buat apa buat lagu-lagu itu, sudah ada, kan. Lagu patah hati sudah banyak, buat apa kita ikut-ikut lagi, kecuali kita mengalami yang sangat spesial. Sebenarnya kita tidak anti lagu cinta begitu, tapi jangan kebanyakan juga karena kenyataannya kita hidup itu tidak cuma cinta, banyak macam, kita ada yang kuliah, kerja, segala macam. Di kuliah, sekolah, kerja menemui problematika, itu sangat menarik semuanya untuk diangkat jadi lagu. Berhubung lagu cinta sudah banyak yang angkat, lagu yang lain jarang, jadi kita angkat. Kebetulan kita memang tertarik dengan tema-tema yang kita angkat juga. Jadi kita tidak akan angkat lagu yang kita tidak tertarik, semuanya kita tertarik karena percuma, biar laku kita mengada-ada tema yang jarang tapi sebenarnya kita tidak tertarik di situ.

Arif: Pendapat ERK tentang industri musik saat ini?
Cholil: Industri musik Indonesia beruntung ada ringback tone, mungkin. Kalau ga ada ringback tone mungkin sudah hancur, nih. Penjualan fisik hancur. Toko-toko kaset banyak yang tutup, kan? Sekarang yang berjaya ringback tone itu berarti perusahaan selular, provider telepon. Menurut gue sih industri musik tidak improve dirinya dia sehingga dia telat cari jalan keluar. Beruntung ada ringback tone, walaupun itu sebenarnya bukan merupakan suatu strategi yang diciptakan dari awal. Kalau tidak ada ringback tone sudah habis. Artinya industri musik seharusnya tidak melulu memikirkann duit, tapi harus ada itikad baik di dalamnya untuk kita membuat pondasinya kuat, itu orang-orangnya dididik untuk tidak mudah berpaling dari suatu produk ke produk yang lain. Ada sesuatu industri musik yang membuat orang loyal. Sekarang kan tidak loyal, kecuali di indie. Di indie orang-orangnya loyal. Dia sudah download nih, idenya ada, terus dia beli. Agak sedikit berbeda dengan di industri musik. Kita release hari Minggu, hari Rabu sudah ada di internet. Album kita yang baru baru dua hari sudah ada di internet, orang-orang pada download. Tapi tetap saja orang-orang pada beli. Mungkin download sebagai taster, kalau cocok beli.

Arif: Jadi secara tidak langsung pembajakan itu membantu buat indie ya?
Cholil: Bukan membantu maksudnya, dia jadi instrumen. Jadi sekalian saja, kalau dia tidak bisa dilawan, digunain aja. Jadi main marketing.

Paung: Apa tanggapannya mengenai net label?
Cholil: Itu bagian dari perkembangan digital, sekalian saja. Kalau orang cari uang dari penjualan fisik atau digital, dia gratiskan saja, kemudian dia mencari kemampuan finansial dari manggung, merchandise.
Paung: Kalau boleh tahu, pendapatan terbesar ERK dari mana?
Cholil: Pendapatan terbesar ERK dari manggung
Akbar: Manggung dan jual kaos atau merchandise.
Cholil: Maksudnya manggungnya memang tidak mahal, ya. Tapi kita suggest sering manggung. Kalau kita sering manggung kan otomatis ya dapat lah. Tapi yang penting bisa menyebarkan musik dulu.
Akbar: Memang perlu waktu
Cholil: Kalau di indie orang-orang punya endurance untuk cari musik yang bagus. Kalau di tv, lo mau cari musik bagus nggak ada. Akhirnya lo mesti effort sesuatu yang lebih, misalnya lo pergi ke mana. Kalo orang-orang yang mau cepet kan, “yaudah, deh, yang ada di tv saja gue cukup senang.” Itu ada karakter: yang satu ingin instan, yang satu punya usaha lebih.

Arif: Itu bukannya selera ya?
Cholil: Iya selera, betul.

Arif: Jadi kalau seleranya memang ada di tv tidak masalah dong?
Cholil: Kalau lo nggak tahu yang lain, apa lo tahu bahwa itu selera lo? Lo perlu tahu dulu yang lain. Ketika yang lain ada, belum tentu lo nggak selera kan? Ini artinya ada keterbatasan di media. Media nggak fair. Dia nggak netral untuk selalu berpihak, mana yang bisa menghasilkan profit yang lebih, yang ditampilin media. Kalau semua ditampilin di media terus nggak laku sih nggak masalah. Tapi masalahnya ada barrier. Musik alternatif yang berat, bukan berat, yang explore, dia nggak bisa dapet tempat di tv, di media-media besar, karena mungkin dia bukan dari kapital yang besar sehingga dia nggak sharing keuntungan atau apapun itu. Pokoknya ada hambatan. Siapa yang bisa tau musiknya Efek Rumah Kaca kalau dia nggak pernah didengerin. Kalau dia nggak pernah dengar Efek Rumah Kaca bukan berarti dia ga suka Efek Rumah Kaca kan? Gimana caranya dia bisa tahu Efek Rumah Kaca orang nggak pernah kemana-mana, nggak pernah berusaha untuk tahu, sedangkan kita dapat hambatan: boleh kita main di Inbox, Dering, dsb, lo harus bayar sekian. Ah, nggak menarik juga, nggak apa-apa, bukan prioritas kita.

Arif: Jadi kalau ditawarin main di Inbox atau dering mau-mau aja kan?
Cholil: Mau. Tapi kalau kita dimintain duit, kita ga mau. Kita ga punya duit.
Akbar: Kita main semua. Di acara tv kita semua main.
Cholil: Inbox nggak pernah
Akbar: Oh, kecuali Inbox belum

Arif: Di tweetnya Efek Rumah Kaca pernah bilang: “Jika musisi mau menularkan kecerdasannya, pasti pendengarnya jadi cerdas juga.” Maksudnya apa?
Cholil: Menurut gue, anak-anak indie lebih punya endurance, lebih punya pendengarnya, lebih punya sikap, yang bisa jadi karena spirit dari band-band itu, dari lagu-lagunya. Lagu-lagunya itu udah bisa menularkan bagaimana lo bersikap. Kalo yang begitu-begitu aja ya lo akan jadi begitu-begitu aja. Musik cuma hiburan. Tapi buat orang-orang yang punya spirit, musik lebih dari sekedar hiburan, ada suatu pelampiasan emosi, bisa mendidik, atau bisa jadi media yang lain. Sehingga misalnya begini: gue berani adu deh, orang yang khatam Efek Rumah Kaca dengan yang khatam misalnya musik yang ada di tv , pasti lebih cerdas, menurut gue, karena kontennya juga lebih berat.

Arif: Musik yang bagaimana yang bisa bikin orang jadi lebih cerdas?
Cholil: Substansinya bukan suatu hal yang udah banyak orang yang angkat dan begitu-begitu saja. Substansinya harus ada yang baru, ketika lo mendengarkan itu lo mendapatkan added value atau lirik itu mengajak lo untuk berpikir, atau musik itu, kompleksitas musiknya, bisa jadi meskipun nggak ada lirik lo bisa menelaah musik itu, mengajak lo untuk lebih dari sekedar menganggap musik itu lebih dari sekedar hiburan.
Akbar: Berangkatnya dari musisi, yang bikin harus sadar diri bahwa bikin karya, bukan cari duit. Lo berkarya dulu, berkarya yang baik dengan effort yang baik, pendengar akan memilih. Otomatis yang dengerin juga kebagian, dengan effort dengan nilai yang baik, dia kebagian juga. Jadi berangkatnya dari musisinya juga. Musisi dan pendengarnya mesti juga sama-sama bagus. Nilainya juga sama-sama bagus.

Paung: ERK kan performance-nya persis kaya di rekaman. Itu kuncinya bagaimana?
Cholil: Nggak, ah. Di recording gitarnya lebih banyak, di sini gitarnya cuma satu, gue doang.

Paung: Maksudnya ga ada fals-nya gitu
Akbar: Kata siapa, fals tau.

Cholil: Justru kita merasa kekurangan kita, kita kurang komunikatif, masih belajar,masih sama persis sama di rekaman, kurang improve.

Arif: Kesan manggung di STAN?
Akbar: Yang nonton banyak, ya.
Cholil: Untuk acara hari minggu malem, penontonnya oke, banyak.
Akbar: Bandnya bagus-bagus.
Cholil: 2-3 band sebelum kita bagus.

Arif: Pesan buat anak STAN dari sisi Efek Rumah Kaca atau kita sebagai calon pegawai negeri?
Akbar: Harus lebih baik daripada yang sekarang ya! Jangan terlalu sering memanfaatkan fasilitas negara, lah.
Cholil: Kalau ngeband, lo jadi diri sendiri, tapi lo juga berusaha explore. Jangan merasa nyaman. Harus resah, harus dinamis, supaya tidak begitu-begitu saja. Sama latihan. Lo jangan pengen cepet jago, harus lama. Memang susah main musik. Kalau mau yang bagus itu memang susah. Jadi kalo 1-2 tahun masih bego, wajar, karena memang lama. Bisa-bisa nggak jadi akuntan lo. Gue memilih jadi musisi. Gue daftar STAN dulu, nggak lulus, gue jadi musisi aja, deh. Akhirnya gue sekarang jadi akuntan juga musisi.


*dimuat juga di Majalah Civitas #6 Maret 2010